Pengertian Pendidikan

PENGERTIAN PENDIDIKAN

Oleh : Ir. Zakaria Ibr., MM (Staf Pengajar FKIP Unsam Langsa)



2.1. Pengertian Pendidikan

Makna pendidikan secara sederhana dapat diartikan sebagai usaha manusia untuk membina kepribadiannya sesuai dengan nilai-nilai didalam masyarakat dan kebudayaan, dengan demikian bagaimanapun sederhananya peradaban suatu masyarakat, didalamnya terjadi atau berlangsungnya suatu proses pendekatan, karena itulah sering dinyatakan pendidikan telah ada sepanjang peradaban umat manusia. Pendidikan pada hakikatnya merupakan usaha manusia melestarikan hidupnya, sekedar memperjelas pengertiannya, berikut ini kita kutip beberapa definisi :

2.1.1. Tinjauan Etimologi

Istilah pendidikan menurut “CARTER v. Good” dalam “Dictionary of Education” dijelaskan sebagai berikut :

2). Ilmu yang sistimatis atau pengajaran yang berhubungan dengan prinsip-prinsip da metode-metode mengajar pengawasan dan bimbingan murid, dalam arti luas diganti dengan istilah pendidikan.

1). Proses pengembangan pribadi

2). Proses social

3). Propesional courses

4). Seni untuk membuat dan memahami ilmu pengetahuan yang tersusun yang diwarisi/dikembangkan masa lampau oleh tiap generasi bangsa.

Pendidikan ialah suatu lembaga dalam tiap-tiap masyarakat yang beradab, tetapi tujuan pendidikan tidaklah sama dalam setiap masyarakat. Sistem pendidikan dalam suatu masyarakat (bangsa) dan tujuan-tujuan pendidikannya didasarkan atas prinsip-prinsip (nilai-nilai) cita-cita dan filsafat yang berlaku dalam suatu masyarakat (bangsa).

Istilah pendidikan berkenaan dengan fungsi yang luas dari pemeliharaan dan perbaikan kehidupan suatu masyarakat terutama membawa warna masyarakat yang baru (generasi muda) bagi penuaian kewajiban dan tanggung jawabnya didalam masyarakat. Jadi pendidikan dalam suatu proses yang lebih luas pada proses yang berlangsung didalam sekolah saja.

Pendidikan adalah suatu aktifitas social yang esendial dan memungkinkan masyarakat yang komplek, modern, fungsi pendidikan ini mengalami proses spesialisasi dan lembaga dengan pendidikan formal, yang tetap berhubungan dengan proses pendidikan informal diluar sekolah.

2.1.4. Menurut Prof. Rechey Lodge dalam bukunya “Philosophy of Education” sebagai berikut :

Perkataan “pendidikan” di pakai kadang-kadang dalam pengertian yang lebih luas, kadang-kadang dalam arti yang lebih sempit, dalam pengertian yang lebih luas, semua pengalaman dapat dikatakan sebagai pendidikan.

Serang anak mendidik orang tuanya, seperti halnya pula seorang murid mendidik gurunya, segala sesuatu yang kita katakana, pikiran atau kerjakan mendidik kita, tidak berbeda dengan apa yang dikatakan atau dilaksanakan sesuatu kepada kita baik dari benda-benda hidup maupun benda-benda mati. Dalam pengertian yang lebih luas ini, hidup adalah pendidikan dan pendidikan adalah hidup. Selanjutnya dalam pengertian yang lebih sempit. Prof Lodge menulis antara lain :

Dalam pengertian yang lebih sempit, “Pendidikan” dibatasi pada fungsi tertentu didalam masyarakat yang terdiri atas penyerahan adapt istiadat (tradisi), dengan latar belakang sosialnya, pandangan hidup masyarakat itu kepada warga masyarakat generasi berikutnya, dan demikian seterusnya.

Dalam pengertian yang lebih sempit ini, pendidikan berarti bahwa prakteknya, identik dengan “Sekolah” yaitu pengajaran formal dalam kondisi-kondisi yang diatur.

Pendidikan diartikan sebagai proses timbale balik dari tiap pribadi manusia dalam penyesuaian dirinya dengan alam, dengan teman, dan dengan alam semesta. Pendidikan merupakan pola perkembangan yang terorganisasi dan kelengkapan dari semua potensi manusia, moral intelektual dan jasmani (panca indra), oleh dan untuk kepribadian individunya dan kegunaan masyarakatnya yang diarahkan demi meng-himpun semua aktivitas tersebut bagi tujuan hidupnya (tujuan akhir) pendidikan adalah proses dalam mana potensi-potensi ini (kemampuan, kapasitas) manusia yang mudah dipengaruhi oleh kebiasaan-kebiasaan yang baik, oleh alat (media) yang disusun sedemikian rupa dan dikelola oleh manusia untuk menolong orang lain atau dirinya sendiri mencapai tujuan yang ditetapkan.

Proses dimana pengalaman atau informasi diperoleh sebagai hasil dari proses belajar. Menurut mereka, pendidikan mencakup pengalaman, pengertian dan penye-suaian diri pihak si terdidik terhadap rangsangan yang diberikan kepada menuju arah pertumbuhan dan perkembangan.

Berdasarkan 6 (enam) definisi diatas dapat diberikan beberapa ciri/unsur umum untuk pendidikan yang dapat dijelaskan sebagai berikut ;

Apabila dihubungkan dengan eksistensi dan hakikat kehidupan manusia, kegiatan pendidikan ini diarahkan kepada empat aspek pembentukan dari kepribadian manusia, yaitu :

1). Pengembangan manusia sebagai makhluk individu.

2). Pengembangan manusia sebagai makhluk social.

3). Pengembangan manusia sebagai makhluk susila.

4). Pengembangan manusia sebagai makhluk religius.

2.1.6.1. Pengembangan manusia sebagai makhluk individu

Pendidikan harus berusaha mengembangkan anak didik mampu menolong dirinya sendiri. Pestalozzi mengatakan hal ini dengan istilah/ucapan : “Hilfe zurselbsthilfe” yang artinya memberi pertolongan agar anak mampu menolong dirinya sendiri.

Untuk dapat menolong dirinya sendiri, anak didik perlu mendapatkan berbagai pengalaman didalam pengembangan konsep, prinsip, genetalisasi, intelek, inisiatif, kratifitas, kehendak, emosi/perasaan, tanggung jawab, ketrampilan dan lain-lain. Dengan kata lain, anak didik harus mengalami perkembangan dalam kawasan kognitif, efektif dan psikomotor.

Sebagai makhluk individu, manusia memerlukan pola tingkah laku yang bukan merupakan tindakan instingtif, dan hal ini hanya bisa diperoleh dari pendidikan dan proses belajar.

2.1.6.2. Pengembangan manusia sebagai makhluk sosial

Disamping sebagai makhluk individu (pribadi), manusia adalah juga sebagai makhluk sosial. Manusia adalah makhluk yang selalu berinteraksi dengan sesamanya. Manusia tidak dapat mencapai apa yang diinginkan secara seorang diri saja, kehadiran manusia lain dihadapinya, bukan saja penting untuk mencapai tujuan hidupnya, tetapi juga merupakan sarana untuk pertumbuhan dan perkembangan kepribadiannya. Hal ini ditunjukkan oleh adanya “manusia srigala”, yaitu anak manusia yang berkembang menjadi srigala, dan sama sekali tidak menerima kehadiran manusia lainnya. Ia menjadi bergaya hidup seperti serigala.

2.1.6.3. Pengembangan manusia sebagai makhluk susila

Setiap masyarakat dan bangsa mempunyai norma-norma, dan nilai-nilainya. Tidak dapat dibayangkan bagaimana jadinya seandainya dalam kehidupan manusia tidak terdapat norma-norma dan nilai-nilai tersebut sudah tentu kehidupan masyarakat manusia tentu akan menjadi tidak teratur dan kacau balau.

Hukum rimba sudah pasti dengan mudah berlaku dan menjalar diseluruh penjuru dunia. Melalui pendidikan, kita harus mampu menciptakan manusia susila. Melalui pendidikan, kita harus mengusahakan anak-anak didik kita menjadi manusia pendukung norma, kaidah, dan nilai-nilai susila dan social yang dijunjung tinggi oleh masyarakatnya. Norma, kaidah-kaidah tersebut harus manunggal menjadi bagian yang integral dalam pribadi setiap warga masyarakat. Dengan kata lain, norma, nilai, kaidah-kaidah tersebut harus menjadi milik dan selalu dipersonofikasikan dalam setiap sepak terjang dan tingkah laku setiap pribadi susila.

2.1.6.4. Pengembangan manusia sebagai makhluk religius

Eksistensi manusia yang keempat adalah keberadaannya dalam hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Kuasa. Sebagai anggota masyarakat dan bangsa yang memiliki filsafat Pancasila, kita dituntut untuk mampu menghayati dan mengamalkan ajaran Pancasila dengan sebaik-baiknya. Sebagai anggota masyarakat yang dituntut untuk dapat menghayati dan mengamalkan ajaran Pancasila, maka kepada masing-masing warga Negara dengan demikian juga dituntun untuk dapat menghayati dan mengamalkan ajaran keagamaan yang dianutnya dengan sebaik-baiknya. Setiap manusia Indonesia dituntut untuk dapat melaksanakan hubungan dengan Tuhan dengan sebaik-baiknya menurut keyakinan yang dianutnya masing-masing, serta untuk melaksanakan hubungan baik dengan sesame manusia sebagaimana telah diperintahkan oleh agama yang telah dianutnya.

Kesemuanya sudah tentu hanya dapat diwujudkan dan dilaksanakan dengan baik melalui pendidikan. Tanpa pendidikan, tidak mungkin dapat diwujudkan keempat aspek eksistensi kehidupan manusia diatas.

2.1.7. Hubungan Pendidikan dengan Kebudayaan

Dewasa ini banyak orang mempertanyakan tentang mana yang lebih tua pendidikan dan kebudayaan, namun pertanyaan ini sampai kapanpun tidak ada yang puas dalam menerima jawabannya, tetapi disini kita hanya mencoba untuk menguraikan hubungannya saja, antara pendidikan dan kebudayaan.

Berbicara masalah pendidikan dan kebudayaan memang merupakan dua kata yang payah untuk kita pisahkan secara akurat, kalau kita ibaratkan seperti dua sisi mata uang yang kalau hanya satu sisi saja tentu tidak dapat kita menggunakan dengan baik, dan malah tidak ada gunanya sama sekali. Oleh karenanya pendidikan tidak hanya untuk mengawaetkan kebudayaan akan tetapi juga merupakan media untuk mewariskan kebudayaan dari generasi kegenerasi, selain itu pula untuk dapat mengubah dan mengembangkan pengetahuan.

Sebagaimana kita ketahui bahwa bangsa Indonesia mempunyai falsafah hidupnya yaitu Pancasila, sudah tentu sila-sila dalam Pancasila itu adalah hasil dari pada kepribadian dan kebudayaan bangsa. Oleh karenanya dalam pelaksanaan pendidikan harus sejalan dengan kebudayaan bangsa yang telah dirumuskan dalam Pancasila.

Sebagai manusia yang bertempat tinggal di negara ini, sudah barang tentu dalam segala tindakan harus sesuai dengan falsafah Negara Pancasila sekaligus dalam pelaksanan pendidikan harus mengutamakan dan harus sesuai dengan norma-norma Pancasila.

Penghayatan dan pengamalan Pancasila ini harus menjadi milik bangsa Indonesia yang harus ditetapkan dalam kehidupan masyarakat sesuai dengan norma-norma Pancasila.

2.1.8. Ruang Lingkup Pendidikan

Berbicara masalah batasan-batasan pendidikan ini diperlukan untuk lebih memahami tentang kapankah anak itu mulai dididik dan kapan pula pendidikan itu berakhir bagi anak didik, Hal ini dimaksud dengan batasan-batasan pendidikan.

Melihat permasalahan diatas maka berikut ini akan kita bicarakan pendapat para ahli pendidikan, pendapat-pendapat tersebut adalah :

Setelah kita kaji beberapa definisi di atas, timbul pula pertanyaan bagi kita manakah pendapat yang benar dari sekian banyak pendapat di atas, dan tentu jawabannya semua benar sebab masing-masing didasari atas alasan-alasan yang masuk akal.

Bukan hanya masalah batas-batas yang telah kita kaji diatas akan tetapi masih ada batas yang lain tentu yang berhubungan dengan apa yang dimiliki sianak misalnya sifat, pembawaan dan kepribadian masing-masing anak.

Kita harus menyadari bahwa anak merupakan perbedaan antara satu dan lainnya, apakah itu menyangkut IQ, ekonomi, kesehatan dan lain-lain. Oleh karenanya sebagai seorang guru haruslah berpandangan luas, jangan memaksakan kehendak kepada anak tanpa memperhatikan batas-batas yang dimiliki oleh masing-masing anak tersebut.

2.1.9. Aliran-Aliran Dalam Pendidikan

Dalam dunia pendidikan terdapat beberapa aliran yang berhubungan dan berkembang dan aliran dari pada para ahli ini sering diambil sebagai pedoman dalam pendidikan, sudah barang tentu para ahli yang satu berbeda dengan yang lain tentang teori yang dikemukakan dan tentu adapula yang mampu menggabungkan antara kedua teori dijadikan satu teori. Di bawah ini terdapat empat aliran masing-masing sebagai berikut :

2.1.9.1. Naturalisme

J.J. Rousseu (1912 – 1978) seorang filosof Perancis yang mempelopori aliran naturalisme, melalui bukunya “Emile” berpendapat bahwa segala sesuatu yang lebih baik adalah pada waktu yang lebih baik adalah pada waktu datang dari Sang Pencipta, akan tetapi semua akan menjadi buruk pada saat berada ditangan manusia. Demikian juga dengan manusia pada waktu lahir ia membawa bakat yang baik dan tidak ada seorangpun yang lahir dengan membawa bakat yang buruk, akan tetapi ia menjadi buruk ketika berada ditangan manusia.

Dan ditambahkan oleh aliran ini bahwa pendidikan merupakan salah satu pencemaran dan cara merusak bakat dan pembawaan yang dibawa sejak lahir. Kesimpulannya bahwa aliran ini menganggap bahwa pendidikan tidak diperlukan bagi anak (yang dimaksudkan adalah pendidikan yang dilakukan manusia), tentang persoalan pendidikan diserahkan semuanya kepada alam pertumbuhannya dan perkembangannya diserahkan kepada alam semesta sebagaimana biasanya aliran ini dan semboyannya “Anak berasal dari alam dan kembali kepada alam”.

2.1.9.2. Natifisme

Natifisme merupakan suatu teori yang dipelopori oleh Scopenhouoer dan juga dianut oleh Prof. He95

ymans, dalam teori ini juga perbuatan manusia yang lahir sudah membawa pembawanya yang sama sekali tidak dapat diubah oleh pendidikan.

Melihat pendapat ini berarti hampir saja bersamaan dengan pendapat J.J.Rousseu. Karena menurut aliran ini juga tidak ada faedahnya bahkan dapat merusak perkembangan sianak secara wajar alami, dan hendaknya diberi kebebabasan untuk dapat tumbuh dan berkembang secara kodrat, pertumbuhan secara kodrat adalah lebih baik.

Aliran natifisme ini termasuk aliran yang sangat pesimis terhadap perkembangan melalui jalur pendidikan akan tetapi lebih berkembang secara alami. Ia menerima apa adanya dalam kepribadian manusia tanpa percaya bahwa adanya nilai-nilai yang dapat mempengaruhi kepribadian manusia.

Dengan demikian jelaslah bahwa aliran ini merupakan aliran yang menolak adanya pendidikan.

2.1.9.3. Empirisme

Aliran empirisme ini dipelopori oleh Jonh Lock. Dan teori ini berpendapat bahwa pendidikanlah yang dapat berkembang, manusia ditentukan oleh faktor perkembangan yang diperoleh melalui pendidikan dan uraiannya disimpulkan bahwa anak yang baru lahir seperti kertas putih yang belum ada tulisannya apa-apa, pendi-dikanlah yang menulis pada kertas tadi. Dapat kita tafsirkan bahwa pendidikan merupakan sesuatu yang sangat penting untuk dapat mengisi kekosongan anak yang seakan-akan membutuhkan bantuan yang dewasa dalam bidang pendidikan, dan teori ini dikenal juga dengan teori tabularasa, dan teori ini mendapat dukungan dari pavlav (bangsa Rusia) yang berasal dari golongan atau tokoh dari Behaviorisme. Dan juga didukung oleh J.B. Watson (bangsa Amerika) bahkan ia mengatakan bahwa ia sanggup membuat dan menjamin apa yang diinginkan orang tua terhadap anaknya, misalnya seorang ayah menginginkan anaknya menjadi dokter, seniman, negarawan, astronot dan lain-lain, Watson bersedia dan dikatakan sanggup untuk melakukannya.

Jadi kesimpulannya adalah bahwa aliran ini mengabaikan aspek potensi dan bakat yang dibawa sejak lahir, akan tetapi lebih ditonjolkan perkembangan melalui pendidikan dan ditambahkan lagi bahwa anak yang dilahirkan dengan jiwa dan bakat yang sama hanya pendidikanlah yang dapat engubah dan menimbulkan perbedaan.

2.1.9.4. Konvergensi

Aliran Konvergensi ini dipelopori oleh William Stern. William Stern menge-mukakan bahwa perkembangan manusia ditentukan oleh pembawaan/bakat dan juga alam sekitarnya. Faktor pembawaan atau potensi yang dibawa sejak lahir dapat berkembang apabila dia diberi rangsangan dari luar, rangsangan ini berupa pendidikan.

Dapat kita ambil kesimpulan bahwa pembawaan dan lingkungan (pendidikan kedua-duanya) sangat mempengaruhi perkembangan anak. Perkembangan dan pembawaan anak sangat ditentukan oleh perubahan pendidikan. Pendidikan yang baik adalah pendidikan yang disesuaikan dengan bakat anak. Jadi kalau kita lihat dari kesimpulan yang telah ada, jelas bahwa aliran ini adalah merupakan perpaduan antara dua aliran yang telah kita sebutkan diatas tadi, yaitu perpaduan antara aliran Naturalisme dengan aliran Empirisme.

DAFTAR KEPUSTAKAAN



Agus Sujanto, 1987. Psikologi Perkembangan Gema Insani. Press, Jakarta.


Amin Ganda.M, 1980. Pengelolaan Laboratorium. Yogyakarta.


Anonimous, 1990. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Balai Pustaka Jakarta.


G. Mayer Siagian, 1982. Pedoman Pengelolaan Laboratorium SMTP dan SMTA. Karya Utama Jakarta.


Hartono, 2004. Statistik Untuk Penelitian, Laboratorium pelajar, Jogjakarta.


H.Hadari Nawawi, 1982. Organisasi Sekolah dan Pengelolaannya, Gunung Agung, Jakarta.


Koestoer Partowisastro, 1984. Diagnosa dan Pemecahan Kesulitan Belajar. Erlangga, Jakarta.


Ngalim Purwanto M., 1994. Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis, Remaja Rosdakarya, Bandung.


Soemardji, 1988. Laboratorium Organisasi dan Tata Kerjanya. Kanisius, Jakarta.


Soemanto, W, 1983. Psikologi Pendidikan. Bina Aksara, Jakarta.


Subandijah, 1993. Pengembangan Kurikulum. Gema Insan Press, Jakarta.


Sumadi Suryabrata, 1992. Metodelogi Penelitian. Rajawali Press, Universitas Gajah Mada, Jakarta.


Towo P.Hamakonda, MLS, Set. al, 1996. Pengatur Klasifikasi Persepuluhan Dewey. Bapak Gunung Mulia, Jakarta.

Komentar

Postingan Populer