VISI DAN MISI CURICULUM VITAE PEMILIK
  • Ir. ZAKARIA, MM
  • BIODATA KAMI
  • Biodata Pemilik Web
  • Dan Lain-lain
    A. BIDANG AGAMA ISLAM
  • 01. Tauladan dari Rasulullah
  • 02. Sebuah Nasehat untuk Ummad Rasulullah SAW
  • 03. Kata-kata Hikmah
  • 04. Ceramah Tgk.Wahed Vol 5
  • 05. Tgk. Wahed Vol 6
  • 06. 17 Kisah Hikmah
  • 07. Tata Cara Sholat Tahajjud
  • B. BIDANG PENGETAHUAN UMUM C. JOURNAL PENDIDIKAN D. JOURNAL PERTANIAN E. TEKNOLOGI DAN INFORMASI F. KOMPUTER G. ANDROID DAN HP H. Dan LAIN-LAIN
    A. KORAN/a>
  • 1. Harian Kompas
  • 2. Harian Republika
  • 3. Harian Waspada
  • 4. Harian Serambi Indonesia
  • 5. Harian Tempo
  • 6. Detikcom
  • B. MAJALAH
  • 1. Majalah Akar Media
  • 2. Tabloid Pulsa
  • 3. Majalah Tempo
  • 4. Majalah Hai-Online
  • 5. Majalah Orang Dewasa
  • 6. Majalah Sains
  • 7. Majalah Nova
  • 8. Majalah Gadis
  • 9. Majalah Ummi
  • 10. Majalah Sakinah
  • 11. Majalah Gadis
  • 12. Majalah Hidayah
  • 13. Majalah Isa Islam dan Kaum Wanita
  • ""
    A. LIGA INDONESIA
  • 1. ISL
  • B. LIGA SPANYOL
  • 1. Bola Eropa
  • C. LIGA INGGRIS D. LIGA EROPA E. LIGA JERMAN F. LIGA ASEAN G. LIGA ASIA H. PIALA DUNIA
    A. AYAT SUCI AL-QUR'AN
  • 1. Terjemahan Al-Quran
  • 2. Al-Qur'an 30 Juz
  • 3. AL-QUR'AN
  • 4. Surah Al-Baqarah
  • B. Ilmu Hadist
  • 01. Pengantar Ululumul Hadist
  • C. Thaharah (Bersuci)
  • 01. Pengertian, Macam, dan Cara Thaharah
  • D. Sholat
  • 01. Khusyu' Dalam Shalat
  • E. Shiyam (Puasa) F. Zakat G. Haji H. Nikah
  • 01. Nikah Siri
  • I. Buyu'(Jual Beli) J. Aiman Sumpah) K. Ath'imah Makanan L. Washoyaa (Wasiat) M. Fara’idh (Warisan) N. Jinayat (Pidana) O. Qodho’ (Peradilan) P. Jihad Q. Itq (Memerdekakan Budak)
    A. BAHAN KULIAH
  • 001. PELUANG DAN DISTRIBUSINYA
  • 002. STATISTIKA DAN PROBABILITAS
  • 003. DISTRIBUSI SAMPLING
  • 004. DISTRIBUSI PROBALITAS
  • 005. DISTRIBUSI POISSON
  • 005. DISTRIBUSI SAMPLING
  • B. PR MAHASISWA C. BUKUK-BUKU STATISTIKA
    A. BAHAN KULIAH
  • 001. Rancangan Percobaan
  • 002. Perancangan Percobaan
  • 003. Rancob Kuliah Perdana
  • 004. Rancob Pertemuan ke 1-2
  • 005. Rancob Ke 3 etc
  • 006. Rancangan Acak Lengkap
  • B. PR MAHASISWA C. BUKU-BUKU RANCOB
    A. BIOLOGI UMUM
  • 001. Makanan dan Kesehatan
  • 002. Kesehatan Gigi-Mulut
  • 002. Kesehatan Gigi-Mulut
  • B. PERKEMBANGAN HEWAN C. PR PERKEMBANGAN HEWAN D. FISIOLOGI HEWAN E. PR FISIOLOGI HEWAN
  • A. PETERNAKAN B. PERIKANAN C. PERKEBUNAN DAN KEHUTANAN D. PERTANIAN DAN HOLTKRA
  • 001. Hidroponik Sederhana
  • 002. Kesuburan dan Pemupukan
  • E. HASIL SAMPINGAN PERTANIAN
  • 001. Abon Ikan
  • 002. Susu Kedelai
  • 003. Dendeng Ikan
  • 004. Aneka Kue Tepung Pisang
  • 005. Kerupuk Singkong
  • Minggu, 02 Mei 2010

    Tanda-tanda Allah SWT Menyapa

    Tanda-tanda Allah SWT Menyapa
    Rabu, 28 April 2010, 09:06 WIB


    ilustrasi

    Oleh Nur Faizin M Lc MA


    "Lalu, ke manapun kamu menghadap, maka di situlah 'wajah' Allah." (QS Al-Baqarah: 115). Allah ada di manapun manusia berada, namun manusia sering kali lupa dan tidak mampu merasakan kehadirannya serta tidak bisa melihat tanda-tanda kekuasaannya yang terdapat di seluruh alam semesta.

    Allah SWT menyapa manusia melalui media ayat-ayat alam semesta ( kauniyyah) dan ayat-ayat Alquran (qauliyyah ). Agar manusia menyadari sapaan Allah, manusia yang melihat ayat-ayat tersebut harus memahami fungsi alam semesta sekaligus mampu mengelaborasikannya dengan Alquran.

    Begitu juga ketika membaca Alquran, seharusnya kita mampu memahaminya sesuai dengan fungsi-fungsi dan tujuan Allah menciptakan alam semesta. Yaitu, untuk kemaslahatan dan memberi manfaat kepada seluruh anak manusia.

    Secara tegas, Allah sangat sering menyapa manusia dengan sapaan yang penuh makna; "Ya ayyuhal ladzina Aamanu" (wahai orang-orang yang beriman), "Ya Ayyuhan Naasu" (wahai manusia), Ya 'ibaadi (hai hamba-hambaku), dan lain sebagainya.

    Seruan-seruan Allah yang banyak kita temukan di permulaan ayat-ayat Alquran itu, seharusnya mampu menggugah pribadi seorang mukmin untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah SWT. Bukankah kita percaya bahwa ayat-ayat Alquran adalah firman Allah, namun mengapa keyakinan itu hanya sebatas pada tataran pikiran dan kemantapan hati belaka? Kepercayaan atau keimanan dalam pandangan Islam adalah ibarat mesin yang menggerakkan jasad untuk melakukan perbuatan baik dan amal saleh sebagai bentuk implementasi.

    Imam Al-Ghazali dalam Kitab Ihya `Ulumud Din menyebutkan tiga tingkatan manusia yang membaca ayat-ayat Alquran: Pertama, merasa sedang membacanya di hadapan Allah sehingga khusyuk dan berusaha untuk membacanya dengan benar. Kedua, merasa bahwa Allah sedang berkata dan menyapa kepadanya sehingga dia akan berusaha untuk memahami ayat-ayat Alquran, lalu melaksanakannya. Ketiga, merasa bahwa Allah sedang hadir dan berdialog bersamanya sehingga ketika ada ayat perintah ia merasa Allah langsung memerintahkan padanya. Dan ketika ada larangan, dia sadar bahwa Allah sedang hadir melarangnya.

    Al-Ghazali tidak menyebutkan tingkatan keempat yang lebih baik dalam membaca ayat-ayat Alquran, yaitu membaca ayat-ayat Alquran dengan mengombinasikan dan mengelaborasikan kandungannya ke dalam pembacaan terhadap ayat-ayat alam semesta raya ( kauniyyah ).

    Dengan demikian, ayat-ayat Alquran dapat menyatu dan menghiasi semua perilaku manusia pada saat ia diberikan kesempatan mengelola dan memanfaatkan kekayaan alam semesta ini. Hanya dengan cara seperti itulah, ayat-ayat Alquran dapat memberikan perannya bagi ekosistem dan iklim alam. Wallahu a`lam.

    Sabtu, 01 Mei 2010

    M I S K I N

    Sat, May 1st 2010, 09:10
    Miskin
    Jarjani Usman - Tafakur
    “Shalat berjamaah lebih utama dua puluh tujuh kali dibandingkan shalat sendiri” (HR. Bukhari dan Muslim).

    Hidup miskin memang kadangkala tidak enak. Serba terbatas dalam banyak hal. Namun sesungguhnya, banyak cara menghindari kemiskinan dalam hidup ini, meskipun tak banyak orang mau memahami dan menempuhnya.

    Tentunya, yang pertama sekali perlu dilakukan adalah membentuk pemahaman bahwa kemiskinan bukan satu bentuk saja. Kemiskinan bukan hanya dalam bentuk harta benda, tetapi juga dalam bentuk pahala dan jiwa. Kenyataannya, tidak sedikit orang yang malas melakukan sesuatu yang bisa memperkaya pahala, tak terkecuali dalam beribadah. Dalam shalat, misalnya, ada pahala yang ditawarkan dalam jumlah banyak dan ada juga dalam jumlah sedikit. Sebagaimana dikatakan Rasulullah, shalat sendirian berbeda sekali jumlah pahalanya dibandingkan shalat berjamaah. Namun demikian, hanya sedikit orang yang mau memperoleh kekayaan pahala dengan melakukan shalat berjamaah.

    Demikian juga dengan kemiskinan jiwa. Menurut para ulama, orang yang miskin jiwanya akan sulit merasakan ketenangan dalam hidup ini. Orang lain memperoleh suatu kesenangan akan menjadi sumber yang menyakitkan hatinya. Sedikit saja muncul kesusahan rasanya hidup ini sudah berakhir, seakan-akan Tuhan tiada.

    Padahal seringkali kesusahan menambah kekuatan bagi manusia untuk menjalani hidupnya. Kesusahan menantang akal untuk berpikir lebih dalam dan cara-cara menyelesaikan masalah hidup yang beragam. Semakin mampu menyelesaikan suatu persoalan hidup yang rumit, semakin kaya jiwa seseorang. Sebab, semakin bertambah rasa percaya dalam hidup ini dan bahkan semakin berani mencoba tantangan baru. Yang lebih penting lagi, ketika rasa percaya diri dalam hidup ini sudah dimiliki seseorang, semakin muncul keyakinan bahwa Allah tidak mencoba kecuali sesuai dengan kemampuan seseorang hamba.

    Hukum Nikah Beda Agama dalam Islam dan Kristen, Samakah?

    Hukum Nikah Beda Agama dalam Islam dan Kristen, Samakah?
    Sabtu, 01 Mei 2010, 06:03 WIB


    ilustrasi

    "Cinta itu buta," begitu kata penyair asal Inggris, William Shakespeare. Ungkapan yang sangat masyhur itu memang kerap terbukti dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan, terkadang sampai melupakan aturan agama. Saat ini, tak sedikit umat Muslim yang karena "cinta" berupaya sebisa mungkin untuk menikah dengan orang yang berbeda agama. "Tolong dibantu... Saya benar-benar serius untuk melakukan nikah beda agama. Saya benar-benar pusing harus bagaimana lagi," tulis seorang wanita Muslim pada sebuah laman.

    Lalu bolehkah menurut hukum Islam seorang Muslim, baik pria maupun wanita menikah dengan orang yang berbeda agama? Masalah perkawinan beda agama telah mendapat perhatian serius para ulama di Tanah Air. Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam musyawarah Nasional II pada 1980 telah menetapkan fatwa tentang pernikahan beda agama. MUI menetapkan dua keputusan terkait pernikahan beda agama ini.

    Pertama, para ulama di Tanah Air memutuskan bahwa perkawinan wanita Muslim dengan laki-laki non-Muslim hukumnya haram. Kedua, seorang laki-laki Muslim diharamkan mengawini wanita bukan Muslim. Perkawinan antara laki-laki Muslim dengan wanita ahlul kitab memang terdapat perbedaan pendapat. "Setelah mempertimbangkan bahwa mafsadatnya lebih besar dari maslahatnya, MUI memfatwakan perkawinan tersebut hukumnya haram," ungkap Dewan Pimpinan Munas II MUI, Prof Hamka, dalam fatwa itu.

    Dalam memutuskan fatwanya, MUI menggunakan Alquran dan Hadis sebagai dasar hukum. "Dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik hingga mereka ber iman (masuk Islam). Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun ia menarik hatimu. Dan janganlah kamu menikahkan wanita orangorang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) hingga mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, meskipun ia menarik hatimu..." (QS: al-Baqarah:221).

    Selain itu, MUI juga menggunakan Alquran surat al-Maidah ayat 5 serta at Tahrim ayat 6 sebagai dalil. Sedangkan, hadis yang dijadikan dalil adalah Sabda Rasulullah SAW yang diriwayatkan Tabrani: "Barang siapa telah kawin, ia telah memelihara setengah bagian dari imannya, karena itu, hendaklah ia takwa (takut) kepada Allah dalam bagian yang lain."

    Ulama Nahdlatul Ulama (NU) juga telah menetapkan fatwa terkait nikah beda agama. Fatwa itu ditetapkan dalam Muktamar ke-28 di Yogyakarta pada akhir November 1989. Ulama NU dalam fatwanya menegaskan bahwa nikah antara dua orang yang berlainan agama di Indonesia hukumnya tidak sah.

    Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah juga telah menetapkan fatwa tentang penikahan beda agama. Secara tegas, ulama Muhammadiyah menyatakan bahwa seorang wanita Muslim dilarang menikah dengan pria non-Muslim. Hal itu sesuai dengan surat al-Baqarah ayat 221, seperti yang telah disebutkan di atas. "Berdasarkan ayat tersebut, laki-laki Mukmin juga dilarang nikah dengan wanita non-Muslim dan wanita Muslim dilarang walinya untuk menikahkan dengan laki-laki non-Muslim," ungkap ulama Muhammadiyah dalam fatwanya.

    Ulama Muhammadiyah pun menyatakan kawin beda agama juga dilarang dalam agama Nasrani. Dalam perjanjian alam, kitab ulangan 7:3, umat Nasrani juga dilarang untuk menikah dengan yang berbeda agama. "Dalam UU No 1 tahun 1974 pasal 2 ayat 1 juga disebutkan bahwa: "Pernikahan adalah sah, apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu."

    "Jadi, kriteria sahnya perkawinan adalah hukum masing-masing agama yang dianut oleh kedua mempelai," papar ulama Muhammadiyah dalam fatwanya. Ulama Muhammadiyah menilai pernikahan beda agama yang dicatatkan di kantor catatan sipil tetap tak sah nikahnya secara Islam. Hal itu dinilai sebagai sebuah perjanjian yang bersifat administratif.

    Ulama Muhammadiyah memang mengakui adanya perbedaan pendapat tentang bolehnya pria Muslim menikahi wanita nonMuslim berdasarkan surat al-Maidah ayat 5. "Namun, hendaknya pula dilihat surat Ali Imran ayat 113, sehingga dapat direnungkan ahli kitab yang bagaimana yang dapat dinikahi laki-laki Muslim," tutur ulama Muhammadiyah.

    Dalam banyak hal, kata ulama Muhammadiyah, pernikahan wanita ahli kitab dengan pria Muslim banyak membawa kemadharatan. "Maka, pernikahan yang demikian juga dilarang." Abdullah ibnu Umar RA pun melarang pria Muslim menikahi wanita non-Muslim.

    Bab III Metodologi Penelitian

    BAB III

    METODOLOGI PENELITIAN

     

    3.1.      Metode Penelitian    

    Penelitian ini menggunakan metode riset dengan mengambil beberapa sampel yang mewakili suatu populasi Wisatawan mancanegara yang berada di Daerah Istimewa Yogyakarta khususnya di Kabupaten Bantul yang berkunjung pada toko kerajinan (art shop) kulit bermotif wayang (tatah sunging)

    3.2.      Wilayah Penelitian

    Penelitian ini dilaksanakan di wilayah Kabupaten Bantul pada sentra perkampungan industri kerajinan (art shop) kulit motif wayang (tatah sunging) di Desa Panggungharjo Sewon, Bangunjiwo Kasihan, dan Wukirsari Imogiri, Kabupaten Bantul.

    3.3.      Populasi dan Penentuan Sampel

                Populasi dalam penelitian ini meliputi seluruh wisatawan mancanegara yang berkunjung pada toko kerajinan (art shop) kulit motif wayang (tatah sunging) di  Kabupaten Bantul. Penelitian ini jumlah populasinya tidak bisa diketahui secara pasti maka berdasarkan Malhotra (1999), untuk menentukan jumlah sempel dapat ditentukan yaitu minimum empat atau lima kali jumlah variabel yang digunakan. Karena jumlah variabel yang diteliti sebanyak 10 maka sampel yang ditetapkan sebanyak 300 responden dianggap sudah mewakili. Metode Pengambilan sampel dalam penelitian ini adalah menggunakan metode accidental sampling, yaitu metode pengambilan sampel yang dilakukan berdasarka kebetulan (sugiyono,1999) dalam arti seluruh wisatawan yang berkunjung ke toko kerajinan (art shop) kulit motif wayang (tatah sunging) di  Kabupaten Bantul.

    3.4.      Jenis dan Sumber Data

    a.   Data primer meliputi tanggapan responden (wisatawan mancanegara) sehubungan dengan keputusan pembelian produk kerajinan kulit motif wayang pada toko kerajinan (art shop) di Kabupaten Bantul.

    b.   Data sekunder misalnya laporan-laporan atau dokumen yang berasal dari instansi pemerintah, Biro Pusat Statistik, Departemen Perindustrian, Perdagangan dan koperasi, Dinas Pariwisata Kabupaten Bantul dan instansi terkait lainnya.

    3.5.      Teknik Pengumpulan Data

                Data primer dalam penelitian ini dikumpulkan dengan : (a). Kuesioner (angket) dan (b). Interview

    3.6.      Variabel Penelitian

    Variabel penelitian adalah objek penelitian, atau apa yang menjadi titik perhatian suatu penelitian (Arikunto, 2002: 96). Dalam penelitian ini terdapat 9    ( sembilan ) variabel bebas ( X ) dan satu variabel terikat ( Y ).

    3.6.1    Variabel Bebas / Independent Variabel ( X )

    Yaitu variabel yang mempengaruhi variabel lain atau yang diselidiki pengaruhnya. Yang menjadi variabel bebas dalam penelitian ini adalah:

    1.      Faktor pengetahuan Pribadi ( X1 )

    2.      Faktor Budaya (X2)

    3.      Faktor Kelompok Acuan (X3)

    4.      Faktor kelas Sosial (X4)

    5.      Faktor Produk (X5)

    6.      Faktor Harga (X6)

    7.      Faktor Promosi (X7)

    8.      Faktor Distribusi (X8)

    9.      Faktor Kondisi Fisik (X9)

     

    3.6.2 Variabel Terikat / Dependent Variabel ( Y )

                            Variabel terikat adalah gejala atau unsur variabel yang dipengaruhi variabel  lain.  Yang  menjadi variabel  terikat  dari  penelitian  ini    adalah keputusan pembelian produk kulit motif wayang pada toko kerajinan (art shop) di Kabupaten Bantul. Untuk variabel  keputusan pembelian dapat diukur dengan banyaknya jumlah produk yang dibeli, pembelian kembali, keinginan menjadi importir atau agen dan  merekomendasikan pada orang lain untuk membeli kerajinan kulit motif wayang yang dikeluarkan dalam keputusan pembelian yang dilakukan oleh wisatawan mancanegara.

    Tabel 3.1.

    Variabel Penelitian

     

    VARIABEL

    SUB VARIABEL

    INDIKATOR

    INSTRUMEN

    SKALA

    Variabel Independen (X)

    Faktor pengetahuan Pribadi ( X1 )

     

     

     

     

    Faktor Budaya (X2)

     

     

     

     

     

    Faktor Kelompok Acuan (X3)

     

     

     

     

    Faktor kelas Sosial (X4)

     

     

     

     

     

     

    Faktor Produk (X5

     

     

     

     

     

     

     

     

    Faktor Harga (X6)

     

     

     

     

     

    Faktor Promosi (X7)

     

     

     

     

     

     

    Faktor Distribusi (X8)

     

     

     

     

     

    Faktor Kondisi Fisik (X9)

    1.        Pengetahuan produk

     

     

     

     

     

    2.      Nilai budaya

     

     

     

     

     

     

    3.      Pengetahuan dari keluarga

    4.      Pengetahuan dari teman

     

     

     

    5.      Pendapatan

     

     

     

     

     

     

     

    6.      Desain

    7.      Kualitas

    8.      Bahan baku

    9.      Keunikan

    10.  Ukuran

     

     

     

     

     

    11.  Tingkat harga

    12.  Potongan harga

     

     

     

    13.  Pameran

     

     

    14.  Personal selling

     

     

     

    15.  Transportasi

     

    16.  saluran distribusi

     

     

     

    17.  desain bangunan toko

    18.  Tempat parkir

    19.  tata letak produk

    20.  Akses ke lokasi

    Mengetahui sendiri (X1.P1)

    Mengetahui sebelumnya (X1.P2)

    Mengetahui saat datang ke Indonesia(X1.P3)

     

    Suka karena

    budaya Jawa (X2.P1)

    Ada budaya sejenis di negaranya (X2.P2)

    Kesukaan Pada kerajinan (X2.P3)

     

    Sepengetahuan dari keluarga (X3.P1)

    Sepengetahuan dari teman (X3.P2)

    Lingkungan tempat tinggal (X3.P3)

     

    Tingkat pembelian masyarakat sekitar(X4.P1)

    Tingkat pendapatan(X4.P2)

    Pola gaya hidup tinggi (X4.P3)

     

    Disain menarik (X5.P1)

    Kualitas bagus (X5.P2)

    Bahan baku kulit (X5.P3)

    Tingkat keunikan (X5.P4)

    Tingat Ornamennya(X5.P5)

    Jenis produknya (X5.P6)

    Tingkat Ukuran (X5.P7)

    Tingkat kesesuaian harga (X6.P1)

    Ada atau tidaknya potongan harga(X6.P2)

    Harga Relatif terjangkau (X6.P3)

     

    Sepengetahuan dari pameran (X7.P1)

    Sepengetahuan dari pemandu (X7.P2)

    Sepengetahuan dari Media TV,Elektronik (X7.P3)

     

    Tingkat kesulitan transportasi (X8.P1)

    Tingkat kebutuhan jasa pengiriman (X8.P2)

    Pembelian langsung (X8.P3)

     

    Disain toko yang menarik (X9.P1)

    Luas halaman parkir(X9.P2)

    Tingkat penataan produk (X9.P3)

    Tingkat kemudahan akses(X9.P4)

    Ordinal

     

    Ordinal

     

    Ordinal

     

     

    Ordinal

     

    Ordinal

     

    Ordinal

     

     

    Ordinal

     

    Ordinal

     

    Ordinal

     

     

    Ordinal

     

     

    Ordinal

     

    Ordinal

     

     

    Ordinal

    Ordinal

    Ordinal

     

    Ordinal

     

    Ordinal

     

    Ordinal

    Ordinal

    Ordinal

     

    Ordinal

     

    Ordinal

     

     

    Ordinal

     

    Ordinal

     

    Ordinal

     

     

     

    Ordinal

     

    Ordinal

     

    Ordinal

     

     

    Ordinal

     

     

     

    Ordinal

     

    Ordinal

     

    Variabel dependen Keputusan Pembelian (Y)

    Keputusan pembelian

    1.      Produk yang dibeli

     

    2.      Rekomendasi

     

     

     

    3.      Pembelian kembali

     

    4.      keinginan menjadi agen

     

     

     

    Jumlah produk (Y1.P1)

     

     

    Tingkat keinginan merekomendasikan (Y1.P2)

     

    Tingkat daya beli(Y1.P3)

     

    Tingkat menjadi importir (Y1.P4)

    Ordinal

     

     

    Ordinal

     

     

    Ordinal

     

     

     

    Ordinal

    3.7       Teknik Pengukuran variabel

    Alat  yang digunakan untuk mengumpulkan data primer dalam penelitian ini adalah kuesioner. Peneliti menggunakan kuesioner yang dikembangkan  oleh  Delgado  dan  Munuera (2005).  Skala  yang digunakan dalam penelitin ini adalah skala likert. Skala ini berinterasi 1-5 dengan pilihan jawaban sebagai berikut :

      ( 1 ) Sangat Tidak Setuju (STS)

      ( 2 ) Tidak Setuju (TS)

      ( 3 ) Netral (N)

      ( 4 ) Setuju (S)

      ( 5 ) Sangat Setuju (SS)

    Pemberian skor untuk masing-masing jawaban dalam kuesioner adalah sebagai berikut :

      Pilihan pertama, memiliki nilai skor 1 (satu)

      Pilihan kedua, memiliki nilai skor 2 (dua)

      Pilihan ketiga, memiliki nilai skor 3 (tiga)

      Pilihan keempat, memiliki nilai skor 4 (empat)

      Pilihan kelima, memiliki nilai skor 5 (lima)

    3.8.      Pengujian Instrumen Penelitian

                3.8.1.   Uji Reliabilitas

    Reliabilitas adalah sesuatu instrumen cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrumen tersebut sudah baik ( Arikunto, 2002: 154 ). Pada penelitian ini untuk mencari reliabilitas instrumen menggunakan rumus alpha α, karena instrumen dalam penelitian ini berbentuk angket atau daftar pertanyaan yang skornya merupakan rentangan antara 1-5 dan uji validitas  menggunakan  item  total,  dimana  untuk  mencari  reliabilitas instrumen yang skornya bukan 1 dan 0, misalnya angket atau soal bentuk uraian maka menggunakan rumus alpha α:

    Reliabilitas adalah sejauh mana hasil suatu pengukuran dapat dipercaya, maksudnya apabila dalam beberapa pelaksanaan pengukuran terhadap kelompok yang sama diperoleh hasil yang relatif sama                   ( Syaifuddin Azwar, 2000 : 3). Dalam penelitian ini, uji reliabilitas dilakukan dengan menggunakan tekhnik Formula Alpha Cronbach dan dengan menggunakan program SPSS 15.0 for windows.

    Rumus :

    α = 

     

    Keterangan :

    α   =  koefisien reliabilitas alpha

    k   =  jumlah item

    Sj  =  varians responden untuk item I

    Sx =  jumlah varians skor total

                Indikator pengukuran reliabilitas menurut Sekaran (2000: 312) yang membagi tingkatan reliabilitas dengan kriteria sebagai berikut :
    Jika alpha atau r hitung:

    1. 0,8-1,0                       = Reliabilitas baik

    2. 0,6-0,799                   = Reliabilitas diterima

    3. kurang dari 0,6           = Reliabilitas kurang baik

     

    3.8.2.   Pengujian Validitas  

    Validitas  adalah  suatu  ukuran  yang  menunjukkan tingkat-tingkat kevalidan atau kesahihan sesuatu instrumen (Arikunto, 2002: 144). Sebuah instrumen dikatakan valid apabila mampu mengukur apa yang diinginkan dan dapat mengungkap data dari variabel yang diteliti secara tepat.Tinggi rendahnya  validitas  instrumen  menunjukkan  sejauh  mana  data yang terkumpul  tidak  menyimpang  dari  gambaran  tentang  validitas  yang dimaksud.

    Cara yang dipakai dalam menguji tingkat validitas adalah dengan variabel internal, yaitu menguji apakah terdapat kesesuaian antara bagian instrumen secara keseluruhan. Untuk mengukurnya menggunakan analisis butir. Pengukuran pada analisis butir yaitu dengan cara skor-skor yang ada kemudian  dikorelasikan  dengan  menggunakan  Rumus korelasi  product moment yang dikemukakan oleh Pearson dalam Arikunto,  (2002:  146) sebagai berikut:

     

                   rxy

                dengan pengertian

    rxy       : koefisien korelasi antara x dan y rxy

    N         : Jumlah Subyek

    X         : Skor item

    Y         : Skor total

    ∑X       : Jumlah skor items

    ∑Y       : Jumlah skor total

    ∑X2       : Jumlah kuadrat skor item

    ∑Y2       : Jumlah kuadrat skor total

    ( Suharsimi Arikunto, 2002 : 146 )

    Kesesuaian   harga   rxy   diperoleh   dari   perhitungan   dengan menggunakan rumus diatas dikonsultasikan  dengan  tabel  harga  regresi moment dengan korelasi harga rxy lebih besar atau sama dengan regresi tabel, maka butir instrumen tersebut valid dan jika rxy lebih kecil dari regresi tabel maka butir instrumen tersebut tidak valid.

    3.9.              Metoda Analisis Data

                3.9.1 Analisa Korelasi

     

                            Analisis data yang digunakan untuk melihat hubungan antara Faktor pengetahuan Pribadi ,Faktor Budaya, Faktor Kelompok Acuan ,Faktor kelas Sosial, Faktor Produk, Faktor Harga, Faktor Promosi, Faktor Distribusi, dan Faktor Kondisi Fisik  dengan keputusan pembelian produk kerajinan kulit motif wayang  adalah dengan menggunakan korelasi product moment dari Karl Pearson. Kegunaan dari korelasi ini adalah yaitu untuk menguji dua signifikansi dua variabel, mengetahui kuat lemah hubungan, dan mengetahui besar retribusi. Dalam penelitian ini analisis korelasi pearson digunakan untuk menjelaskan derajat hubungan antara variabel bebas (independent) dengan variabel terikat (dependent) dengan nilai : -1 ≤ rs ≤ 1, dimana :

    a.       Bilai nilai rs = -1 atau mendekati -1, maka korelasi kedua variabel dikatakan sangat kuat dan negatif artinya sifat hubungan dari kedua variabel berlawanan arah, maksudnya jika nilai X naik maka nilai Y akan turun atau sebaliknya.

    b.      Bila nilai rs = 0 atau mendekati 0, maka korelasi dari kedua variabel sangat lemah atau tidak terdapat korelasi sama sekali.

    c.       Bila nilai rs = 1 atau mendekati 1, maka korelasi dari kedua variabel sangat kuat dan positif, artinya hubungan dari kedua variabel yang diteliti bersifat searah, maksudnya jika nilai X naik maka nilai Y juga naik atau sebaliknya.

    Adapun kriteria penilaian korelasi menurut Sugiyono (2003 ; 216) yaitu :

    Tabel 3.2

    Kriteria Penilaian Korelasi

     

    Interval Koefisian

    Tingkat Hubungan

    0.00 – 0.199

    Sangat Rendah

    0.20 – 0.399

    Rendah

    0.40 – 0.599

    Sedang

    0.60 – 0.799

    Kuat

    0.80 – 1.000

    Sangat Kuat

     

    Penghitungan korelsi dilakukan dengan menggunakan program SPSS 15.0 for windows.

                Dalam analisis data model analisa korelasi, karena jawaban responden yang diukur dengan menggunakan skala likert (lykert scale) diadakan scoring numerikal 1,2,3,4 dan 5 maka hal ini data masih dalam bentuk ordinal sehingga Dengan demikian yang harus terlebih dahulu dilakukan adalah merubah data ordinal kedalam data interval. Pada penelitian ini data ordinal ditransformasikan ke data interval dengan menggunakan method of successive, Hays (1976).

    3.10     Hipotesis

    Berdasarkan uraian teoritik di atas, maka hipotesis penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut :

    H1            :Ada hubungan antara Faktor Pengetahuan Pribadi (X1) dengan keputusan pembelian produk kerajinan kulit motif wayang (tatah sungging) pada toko kerajinan (art shop) wayang kulit di Kabupaten Bantul.

    H2            :Ada hubungan antara Faktor Budaya (X2)  dengan keputusan pembelian produk kerajinan kulit motif wayang (tatah sungging) pada toko kerajinan (art shop) wayang kulit di Kabupaten Bantul.

    H3            :Ada hubungan antara Faktor Kelompok Acuan (X3 dengan keputusan pembelian produk kerajinan kulit motif wayang (tatah sungging) pada toko kerajinan (art shop) wayang kulit di Kabupaten Bantul.

    H4            :Ada hubungan antara Faktor kelas Sosial (X4) dengan keputusan pembelian produk kerajinan kulit motif wayang (tatah sungging) pada toko kerajinan (art shop) wayang kulit di Kabupaten Bantul.

    H5            :Ada hubungan antara Faktor Produk (X5) dengan keputusan pembelian produk kerajinan kulit motif wayang (tatah sungging) pada toko kerajinan (art shop) wayang kulit di Kabupaten Bantul.

    H6            :Ada hubungan antara Faktor Harga (X6) dengan keputusan pembelian produk kerajinan kulit motif wayang (tatah sungging) pada toko kerajinan (art shop) wayang kulit di Kabupaten Bantul.

    H7            :Ada hubungan antara Faktor Promosi (X7)      dengan keputusan pembelian produk kerajinan kulit motif wayang (tatah sungging) pada toko kerajinan (art shop) wayang kulit di Kabupaten Bantul.

    H8            :Ada hubungan antara Faktor Distribusi (X8) dengan keputusan pembelian produk kerajinan kulit motif wayang (tatah sungging) pada toko kerajinan (art shop) wayang kulit di Kabupaten Bantul.

    H9            :Ada hubungan antara Faktor Kondisi Fisik (X9)dengan keputusan pembelian produk kerajinan kulit motif wayang (tatah sungging) pada toko kerajinan (art shop) wayang kulit di Kabupaten Bantul.

     

     

     

    SELAMAT DATANG DI BLOG KAMI

    "Ir. ZAKARIA, MM" Mengucapkan Selamat Datang di Weblog kami, dan semua ini berlandaskan untuk saling berbagi terutama para Insan Pencinta Ilmu Pengetahuan dan Khususnya Para Mahasiswa yang ada di Belahan Bumi Nusantara dan termasuk Negara Tetangga Ban Sigom Donya (Seluruh Dunia) yang budiman. Kritik dan Saran serta Komentarnya dari anda sangat Kami Harapkan dan Terima Kasih