SELAMAT DATANG DI BLOG KAMI

"Ir. ZAKARIA, MM" Mengucapkan Selamat Datang di Weblog kami, dan semua ini berlandaskan untuk saling berbagi terutama para Insan Pencinta Ilmu Pengetahuan dan Khususnya Para Mahasiswa yang ada di Belahan Bumi Nusantara dan termasuk Negara Tetangga Ban Sigom Donya (Seluruh Dunia) yang budiman. Kritik dan Saran serta Komentarnya dari anda sangat Kami Harapkan dan Terima Kasih

Sabtu, 23 April 2011

DESKRIPSI MATERI KULIAH STATISTIK PENDIDIKAN PRODI PMA STAIN ZAWIYAH COT KALA


Mata Kuliah : STATISTIK PENDIDIKAN (3 SKS)
Prodi : PMA
Unit / Semester : 4 / III (Tiga)
Dosen : Ir. Zakaria, MM
Email : zakariaib@gmail.com
HP : 085262794035


DESKRIPSI MATERI KULIAH
STATISTIK PENDIDIKAN

A. Konsep Dasar Statistika
1. Pengertian Statistik dan Statistika
2. Macam-macam Data Penelitian.
3. Sumber Data data dan syarat-syarat data yang baik
4. Pembulatan Bilangan

B. Penyajian Data
1. Tabel atau daftar
2. Membuat tabel distribusí frekuensi, tabel distribuís frekuensi relatif dan komulatif
3. Grafik atau diagram : batang, garis, lingkaran dan pastel, lambang, peta dan diagram pencar, histogram dan poligon frekuensi serta ogiv dan ozaiv (kurva frekuensi).

C Masalah Rata-rata dan Standard Deviasi
1. Ukuran gejala pusat dan ukuran letak
- Rata-rata hitung (mean), rata-rata ukur, rata-rata harmonik
- Modus
- Median
- Kuartil, desil dan persenril

D. Masalah Penyebaran Data
1. Ukuran Simpangan, Dispersi dan Variasi
- Disversi mutlak yang terdiri dari : jangkauan (range), simpangan rata-rata (mean deviasiation), variance, standard deviasi, dan simpangan kuartil.
- Disversi relatif terdiri dari : koefisien range, koefisien deviasi rata-rata (KK=koefisen keragaman)

E. PROBABILITY
1. Teori Peluang
2. Distribusi Peluang

F. Teknik Analisis Regresi dan Korelasi
1. Regresi Linear Sederhana dan Linear Berganda
2. Korelasi dalam regresi Linear sederhana dan berganda
3. Koefisien korelasi untuk data dalam tabel distribusi frekuensi dan Koefisien determinasi.

4. Uji Validitas (produk moment)
5. Uji Signifikansi

G. Test Non Parametrik (Uji ”t” dan Chi Kuadrat)
1. Uji ”t” dengan menguji kesamaan dua rata-rata baik satu pihak maupun dengan dua pihak.
2. Uji Persyaratan
a. Uji Normalitas (Chi Kuadrat)
b. Uji Homogenitas (Uji F).
c. Uji Reliabilitas
H. Pengolahan Data dengan SPSS Statistics 20
DAFTAR PUSTAKA :
1). Anas Sudijro, Pengantar Statistik Pendidikan. Jakart: Rajawali Pers, 1980.
2). Arikunto, Suharsimi, Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: Bina Aksara, 1990.
3) - - - - - -, Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bina Aksara, 1993.
4). Purwanto, N., Prinsip-prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Bandung: Remadja Karya, 1986..
5). Hill.Siegel, S & Castelland, J.R., Nonparametric Statistic for the Behavioral Science. New York: Mc.Graw Hill, 1988.
6). Sudjana, Teknik Analisis Regresi dan Korelasi. Bandung: Tarsito, 2000.
7). - - - - - - -, Metode Statistika. Bandung: Tarsito, 1984..
8). Sutrisno Hadi, Metodologi Research. Yokyakarta: Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi UGM, 1985.
9). Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Raja Grafido Persada, 2001.
10). Winkel, Psikologi Pendidikan dan Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bina Aksara, 1991.


Langsa, 18 Oktober 2010
Dosen Pengasuh Geometri Bidang



Ir. Zakaria, MM

DESKRIPSI MATERI KULIAH GEOMETRI BIDANG PRODI PMA STAIN ZAWIYAH COT KALA


Mata Kuliah : GEOMETRI BIDANG (2 SKS)
Prodi : PMA
Unit / Semester : 1, 2, 3 dan 4 / II (Dua)
Dosen : Ir. Zakaria, MM
hp. 085262794035
Email : zakariaib@gmail.com

DESKRIPSI MATERI KULIAH
GEOMETRI BIDANG

A. Pendahuluan Geometri
1. Pengertian pangkal, aksioma dan definisi
2. Kurva, ruas garis, sinar, garis dan sudut
3. Kesejajaran, hubungan garis dan sudut
4. Pengertian dan kedudukan antara titik, garis dan bidang.
5. Beberapa macam bangun datar.
6. Pengertian sudut dan macam-macam sudut
7. Lukisan Dasar

B. Segitiga dan Teorema-teoremanya
1. Pengertian segitiga dan macam-macam segitiga berdasarkan sudut, kekongruenan dan kesebangunan segitiga
2. Melukis dan menentukan panjang garis istimewa dalam segitiga.
3. Keliling dan luas daerah segitiga

C Segi Empat dan Teorem-teoremanya
1. Jenis-jenis dan unsur-unsurnya dalam segi empat
2. Luas daerah bangun-bangun segi-empat

D. Segi banyak
1. Segi banyak dan segi banyak beraturan,
2. Melukis segi banyak beraturan

E. Lingkaran Teorema-teoremanya
1. Unsur-unsur lingkaran,
2. Hubungan antara garis, sudut, segitiga dan segi empat terhadap lingkaran.
3. Persamaan Lingkaran

DAFTAR PUSTAKA :
1) Jurgensen, Ray, Teacher’s Eddition Education Geometry, Boston: Houghton Mifflin Company, 1983.
2) Rahmat, Muhammad, Geometry, Jakarta: Universitas Terbuka, 1997.
3) Rosskopf, Myron F., Tescher’s Edition Modern Mathematics, Geometry, Morristorn N.Y.: Silver Burdett Company, 1996.
4) Travel, Kenneth. J., Geometry, Illinois: Laidlaw Rothers Publishers, 1987.
5) Wijdenes, P., Planimetri, Jakarta: Noordhoff-Kolf, 1956.

Langsa, 01 Maret 2011
Dosen Pengasuh Geometri Bidang

Ir. Zakaria, MM

KEUTAMAAN ILMU TAUHID

Keutamaan Ilmu Tauhid


Dari Utsman bin Affan radhiyallahu’anhu, beliau berkata: Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan mengetahui bahwa tidak ada yang sesembahan -yang benar- selain Allah, niscaya masuk surga.” (HR. Muslim, lihat Syarh Muslim [2/64])

Hadits Rasulullah Muhammad SAW ini mengandung banyak pelajaran, di antaranya:

Ilmu -mengetahui maksudnya- merupakan salah satu syarat la ilaha illallah (lihat at-Tanbihat al-Mukhtasharah, hal. 43). Maknanya, jika seseorang mengucapkan la ilaha illallah tanpa mengerti maknanya maka syahadatnya belum bisa diterima.

Yang dimaksud dengan ilmu di sini adalah ilmu yang melahirkan amalan. Dia mengetahui bahwa sesembahan yang benar hanya Allah dan dia pun menyembah-Nya serta tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dalilnya adalah sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam hadits yang lain, “Barangsiapa yang meninggal dalam keadaan tidak mempersekutukan Allah dengan sesuatu apapun maka dia akan masuk surga. Dan barangsiapa yang meninggal dalam keadaan mempersektukan Allah dengan sesuatu apapun maka dia akan masuk neraka.” (HR. Muslim dari Jabir bin Abdullah radhiyallahu’anuma, lihat Syarh Muslim [2/164-165])

Hadits ini menunjukkan betapa tinggi keutamaan ilmu tauhid. Karena ilmu tentang tauhid inilah yang akan mengantarkan seorang hamba menuju surga-Nya. Dengan syarat orang tersebut harus mengamalkannya dan tidak melakukan pembatalnya. Orang yang tidak melakukan kesyirikan -dan dosa lain yang serupa- pasti masuk surga (lihat Syarh Muslim [2/168])

Hadits ini menunjukkan bahwa orang musyrik di akherat kelak kekal di dalam neraka. Sama saja apakah dia itu berasal dari kalangan Ahli Kitab; Yahudi dan Nasrani, pemuja berhala ataupun segenap golongan orang kafir yang lainnya. Bahkan hukum ini -kekal di neraka- juga berlaku umum bagi mereka yang memeluk agama selain Islam ataupun mengaku Islam padahal telah dihukumi kekafiran akibat tindakan kemurtadan yang dilakukannya kemudian mati di atas keyakinannya tersebut (lihat Syarh Muslim [2/168])

Hadits ini menunjukkan bahwa pahala bagi amalan manusia di akherat nanti ditentukan di saat akhir kehidupannya. Innamal a’malu bil khawatim.

Hadits ini menunjukkan tidak mungkin bersatu antara Islam dan kekafiran. Maka bagaimanakah lagi orang yang mengatakan bahwa mereka menganut ajaran Islam Liberal?!

Hadits ini menunjukkan betapa besar kebutuhan umat manusia kepada ilmu tauhid, sebab apabila mereka tidak memahaminya akan sangat besar kemungkinannya mereka melanggarnya -berbuat syirik- dalam keadaan tidak sadar kemudian meninggal di atasnya, wal ‘iyadzu billah!

Wajib mengimani adanya surga dan segala kenikmatan yang ada di dalamnya

Surga hanya dimasuki oleh orang-orang yang bertauhid. Maka hadits ini menjadi bantahan yang sangat telak bagi kaum Liberal dan Pluralis yang menggembar-gemborkan paham Islam Liberal. Di antara contoh keyakinan mereka yang sangat menjijikkan adalah ucapan salah seorang tokoh mereka, “Kalau surga itu hanya dihuni oleh orang Islam saja, maka tentunya mereka akan kesepian.” Maha Suci Allah dari apa yang mereka ucapkan. Ada seorang teman yang menceritakan kepada kami sebuah kisah yang didengarnya dari salah seorang ustadz. Suatu ketika seseorang berkata kepada temannya sesama tukang becak, “Surga itu seperti alun-alun Kraton Yogyakarta. Dari mana saja orang datang dan melewati jalan manapun, tidak masalah. Yang penting akhirnya mereka juga sampai ke sana.” Maka temannya menjawab dengan lugas, “Itu ‘kan surganya Mbah -Moyang- mu!”

Hadits ini mengandung dorongan untuk memahami dan mengamalkan tauhid dengan sebenar-benarnya serta dorongan untuk menjauhi segala macam bentuk kesyirikan

Sumber : http://abumushlih.com

Selasa, 19 April 2011

MENGENAL ALLAH SUBHANAHUWA TAALA




Satu daripada Hadis Nabi Muhammad SAW. yang masyhur ialah;

"Siapa yang mengenal dirinya, mengenal ia akan TuhanNya"

Ini bererti dengan mematuhi dan memikirkan tentang dirinya dan sifat-sifatnya, manusia itu boleh sampai kepada mengenal Allah. Tetapi oleh kerana banyak juga orang yang memikirkan tentang dirinya tetapi tidak dapat mengenal Tuhan, maka tentulah ada cara-caranya yang khusus bagi mengenal ini.

Sebenarnya ada dua cara untuk mencapai pengetahuan atau pegenalan ini. Satu daripada cara itu sangat sulit dan sukar difaham oleh untuk orang-orang biasa, maka cara yang ini tidak usahlah kita terangkan di sini. Yang satu cara lagi adalah seperti berikut: apabila seseorang memikirkan dirinya, dia tahu bahawa ada satu katika apabila ia tidak ada wujud, seperti tersebut dalam Al-Quran: "Tidakkah terjadi kepada manusia itu iaitu ada satu ketika apabila ia tidak ada apa-apa?" Selanjutnyaia juga tahu bahawa ia dijadikan diri setitik air yang tidak ada akal, pendengar, penglihatan, kepala, tangan, kaki dan sebagainya dari sini, teranglah bahawa walaubagaimanapun seseorang itu mencapai taraf kesempurnaan, tidaklah dapat ia membuat dirinya sendiri atau pun membuat sehelai rambut.

Tambahan pula jika ia setitik air, alangkah lemahnya ia? Demikianlah seperti yang kita lihat di bab pertama dulu, didapatinya dalam dirinya kekuasaan, kebijaksanaan dan cinta Allah terbayang dalam bentuk yang kecil. Jika semua pendita dalam dunia ini berkumpul dan mereka tidak mati, nescaya mereka tidak dapat mengubah dan membaiki bentuk pembinaan walau satu bahagian pun dari badannya itu.

Misalnya, dalam penggunaan gigi hadapan dan gigi sisi untuk menghancurkan makanan, pembinaan lidah, gelunjur air liur, tengkuk, kerongkong, kita dapatinya penciptaan itu tidak dapat diperbaiki lagi. Begitu juga, fikirkan pula tangan dan jari kita. Jari ada lima dan tidak pula sama panjang, empat daripada jari itu mempunyai tiga persendian, dan ibu jari hanya ada dua persendian, dan lihat pula bagaimana ianya boleh digunakan untuk memegang, mencincang, memukul dan sebagainya. Jelas sekali manusia tidak akan dapat berbuat demikian, betapa pula hendak menambah atau mengurangkan bilangan jari itu dan susunannya mengikut cara dan bentuk yang lain.

Lihat pula makanan, tempat tinggal kita dan sebagainya. Semuanya cukup dikurniakan oleh Allah yang maha kaya. Tahulah kita bahawa rahmat atau Kasih Sayang Allah itu sama dengan Kekuasaan dan KebijaksanaaNya, seperti firman Allah Subhanahuwa Taala.

"RahmatKu itu lebih besar dari kemurkaanKu"

Dan sabda Nabi SAW.,
"Allah itu sayang kepada hamba-hambanya lebih dari sayang ibu kepada anaknya"

Demikianlah, dari makhluk yang dijadikanNya, manusia dapat tahu tentang wujudnya Allah; dari keajaiban badannya, ia dapat tahu tentang Kekuasaan dan Kebijaksanaanya Allah; dan dari Pengurniaan rezeki Tuhan yang tidak terbatas itu, nampaklah Cinta Allah kepada hambaNya. Dengan cara ini, mengenal diri sendiri itu menjadi anak kunci kepada pintu untuk mengenal Allah Subhanawa Taala.

Sifat-sifat manusia itu adalah bayangan Sifat-sifat Allah. Begitu juga cara wujudnya ruh manusia itu memberi kita sedikit pandangan tentang cara wujudnya Allah, iaitu Allah dan ruh itu tidak kelihatan, tidak boleh dibagi-bagi atau dipecah-pecahkan, tidak tertakluk kepada ruang dan waktu, diluar sempadan kuantiti (bilangan) dan kualiti (kaifiat), dan tidak boleh diperikan dengan bentuk, warna atau saiz. Ada orang merasa payah hendak membentuk satu konsep berkenaan hakikat-hakikat ini kerana ianya tidak termasuk dalam bidang kualiti dan kuantiti, dan sebagainya, tetapi cuba perhatikan betapa susah dan payahnya memberi konsep tentang perasaan kita sehari-hari seperti marah, suka, cinta dan sebagainya. Semua itu adalah konsep fikiran atau tanggapan khayalan, dan tidak dapat dikenali oleh deria. kualiti, kuantiti dan sebagainya dan itu adalah konsep Deria(tanggapan pancaindera). Sebagaimana telinga kita tidak dapat megenal warna, dan mata kita tidak dapat mengenal bunyi, maka begitu jugalah mengenal Ruh dan Allah itu bukanlah dengan derianya.

Allah itu adalah Pemerintah alam semesta raya ini. Dia tidak tertakluk kepada ruang dan waktu, kuantiti dan kualiti, dan menguasai segala makhluknya. Begitu juga ruh itu memerintah badan dan anggotanya. Ia tidak boleh dilihat, tidak boleh dibagi-bagi atau dipecah-pecahkan dan tidak tertakluk kepada tempat tertentu. Kerana bagaimana pula sesuatu yang tidak boleh dibagi-bagikan itu diletak kedalam sesuatu yang boleh dibagi-bagikan atau dipecah-pecahkan? Dari penerangan yang kita baca diatas itu, dapatilah kita lihat bagaimana benarnya sabda Nabi SAW.: "Allah jadikan manusia menurut rupanya".

Setelah kita mengenal Zat dan Sifat Allah hasil dari pemerhatian dan tafakur kita tentah zat dan sifat Ruh, maka sampai pulalah pengenalan kita kepada cara-cara kerja dan pemerintahan Allah Taala dan bagaimana ia muwakilkan Kuasa-Kuasanya kepada malaikat-malaikat, dan lain-lain, dengan cara memerhati dan bertafakur tentang bagaimana diri kita memerintah alam kecil kita sendiri.

Kita ambil sati misalan: Katakanlah seorang manusia hendak menulis nama Allah. Mula-mulanya kehendak atau keinginan itu terkandung dalam hatinya. Kemudian dibawa ke otak oleh tenaga keruhanian. Maka bentuk perkataan "Allah" itu terdiri dalam bahagian khayalan atau fikiran otak itu. Selepas itu ia mengembara melalui saluran urat saraf, lalu menggerakkan jari dan jari itu mengerakkan pena. Maka tertulislah nama "Allah" atas kertas, serupa seperti yang ada didalam otak penulis itu.

Begitu juga apabila Allah Subahanahuwa Taala hendak menjadikan sesuatu perkara, Ia mula-mulanya terzhohir dalam peringkat keruhanian yang disebut didalam Quran sebagai "Al-Arash". Dari situ ia turun dengan urusan Keruhanian ke peringkat yang di bawahnya yang digelar "Al-Kursi". Kemudian bentuknya terzhohir dalam "Al-Luh Al-Mahfuz". Dari situ dengan perantaraaan tenaga-tenaga yang digelar "Malaikat" terzhohirlah perkara itu dan kelihatanlah di atas bumi ini dalam bentuk tumbuh-tumbuhan, pokok-pokok dan binatang; yang mewakilkan atau menggambarkan Iradat dan Ilmu Allah. Sebagaimana juga huruf-huruf yang tertulis, yang menggambarkan keinginan dan kemahuan yang terbit dan terkandung dalam hati; dan bentuk itu dalam dalam otak penulis tadi.

Tidak ada orang yang tahu Hal Raja melainkan Raja itu sendiri. Allah telah jadikan kita Raja dalam bentuk yang kecil yang memerintah kerajaan yang kecil. Dan ini adalah satu salinan kecil Diri(Zat)Nya dan KerajaanNya. Dalam kerajaan kecil pada manusia itu, Arash itu ialah Ruhnya; ketua segala Malaikat itu ialah hatinya; Kursi itu otaknya; Luh Mahfuz itu ruang khazanah khayalan atau fikirannya. Ruh itu tidak bertempat dan tidak boleh dibahagikan dan ia memerintah badanya; sebagaimana Allah memerintah Alam Semester Raya ini. Pendeknya, tiap-tiap orang manusia itu diamanahkan dengan satu kerajaan kecil dan diperintahkan supaya jangan cuai dan lalai mentadbir kerajaan itu.

Berkenaan dengan mengenal ciptaan Allah Subhanahuwa Taala, ada banyak darjah pengetahuan. Ahli Ilmu Alam yang biasa adalah ibarat semut yang merangkak atas sekeping kertas dan memerhatikan huruf-huruf hitam terbentang di atas kertas itu dan merujukkan sebab kepada pena atau qalam itu sahaja.

Ahli Ilmu Falak adalah ibarat semut yang luas sedikit pandangannya dan nampak jari-jari tangan yang menggeakkan pena itu, iaitu ia tahu bahawa unsur-unsur itu adalah kuasa bintang-bintang, tetapi dia tidak tahu bahawa bintang itu adalah di bawah kuasa Malaikat.

Oleh kerana berbeza-bezanya darjah pandangan manusia itu, maka tentulah timbul pertelingkahan dalam mengesan natijah atau kesan(akibat) kepada sebab. Mereka yang tidak memandang lebih jauh dari sempadan alam nyata ini adalah ibarat orang yang mengganggap hamba abdi yang paling rendah itu sebagai raja. Undang-undang alam nyata itu (Fenomena) itu mestilah tetap. Jika tidak, tidak adalah sains. Walaubagaimanapun, adalah salah besar menganggap hamba itu tuannya.

Selagi ada perebezaan ini, segala itulah pertelingkahan akan berterusan. Ini adalah ibarat orang buta yang hendak mengenal gajah. Seseorang memegang kaki gajah itu lalu dikatakannya gajah itu seperti tiang. Seorang lain memegang gadingnya lalu katanya gajah itu seperti kayu bulat yang keras. Seorang lagi memegang telinganya lalu katanya gajah itu macam kipas. Tiap-tiap seorang mengganggap bahagian-bahagian itu sebagai kaseluruhan. Dengan itu, ahli ilmu alam dan ahli ilmu Falak menyanggah hukum-hukum yang mereka dapat dari ahli-ahli hukum. Kesilapan dan sangkaan seperti itu terjadi juga kepada Nabi Ibrahim seperti yang tersebut dalam Al-Quran, Nabi Ibrahim menghadap kepada bintang, bulan dan matahari untuk disembah. Lma kelamaan beliau sedar siapa yang menjadikan semua-benda-benda itu, lalu boleh berkata, "Saya tidak suka kepada yang tenggelam."

Kita selalu mendengar orang merujuk kepada sebab yang kedua bukan kepada sebab yang pertama dalam hal apa yang digelar sakit. Misalnya; jika seseorang itu tidak lagi cenderung kepada hal-ehwal keduniaan, segala keseronakkan biasa tidak lagi dipedilikannya, dan tidak peduli apa pun, maka doktor mengatakan, "Ini adalah kes penyakit gundah gulana, dan ia perlu sekian-kian ubat atau priskripsi."

Ahli fizik akan berkata "Ini adalah kekeringan otak yang disebabkan oleh cuaca panas dan tidak dapat dilegakan kecuali udara menjadi lembab."

Ahli nujum akan mengatakan bahawa itu adalah pengaruh bintang-bintang.

"Setakat itulah kebijaksanaanya mereka." Kata Al-Quran, tidaklah mereka tahu bahawa sebenarnya apa yang terjadi ialah: Allah Subahana Wataala mengambil berat tentang kebajikan orang yang sakit itu dan dengan itu memerintahkan hamba-hambanya seperti bintang-bintang atau unsur-unsur, mengeluarkan keadaan seperti itu kepada orang itu agar ianya berpaling dari dunia ini mengadap kepada Tuhan yang menjadikannya. Pengetahuan tentang hakikat ini adalah sebuah mutiara yang amat bernilai dari lautan ilmu yang berupa Ilham; dan ilmu-ilmu yang lain itu jika dibandingkan dengan Ilmu Ilham ini adalah ibarat pulau-pulau dalam lautan Ilmu Ilham itu.

Doktor, Ahli Fizik dan Ahli Nujum itu memang betul dalam bidang ilmu mereka masing-masing. Tetapi mereka tidak nampak bahawa penyakit itu bolehlah dikatakan sebagai "Tali Cinta" yang dengan tali itu Allah menarik AuliaNya kepadaNya. Berkenaan ini Allah ada berfirman yang bermaksud;

"Aku sakit tetapi engkau tidak melawat Aku".

Sakit itu sendiri adalah satu bentuk pengalamaan yang dengannya manusia itu boleh mencapai pengetahuan tentang Allah; sebagaimana firman Allah melalui mulut Rasul-rasulNya;

"Sakit itu sendiri adalah hambaKu dan dikepilkan(disertakan) kepada orang-orang pilihanKu".

Dengan ulasan-ulasan yang terdahulu, dapatlah kita meninjau lebih mendalam lagi maksud kata-kata yang selalu diucapkan oleh orang-orang yang beriman iaitu;

"Maha Suci Allah" (SubhanaLlah)
"Puji-pujian Bagi Allah (Alhamdulillah)
"Tiada Tuhan Melainkan Allah (La ilaha iLlaLlah)
"Allah Maha Besar" (Allahu Akhbar).

Berkenaan dengan "Allahu Akbar" itu bukanlah bermaksud Allah itu lebih besar dari makhluk, kerana makhluk itu adalah penzhohiranNya sebagaimana cahaya memperlihatkan matahari. Tidaklah boleh dikatakan matahari itu lebih besar daripada cahayanya. Ianya bermaksud iaitu Kebesaran Allah itu tidak dpat disukat dan diukur dan melampaui jangkauan kesedaran; dan kita hanya boleh membentuk idea yang tidak sempurna dan tidak nyata berkenaanNya.

Jika seorang kanak-kanak bertanya kepada kita untuk menerangkan keseronokkan mendapat pangkat yang tinggi, kita hanya dapat mengatakan seperti perasaan kanak-kanak itu tatkala seronok bermain bola, meskipun pada hakikat kedua-dua itu tidak ada persamaan langsung, kecuali hanya kedua-dua perkara itu termasuk dalam jenis keseronokkan. Oleh yanag demikian, kata-kata "Allahu Akhbar" itu bererti Kebesaran itu melampaui semua kuasa pengenalaan dan pengetahuan kita. Tidak sempurna pengenalan kita berkenaan Allah itu bukanlah sangka-sangka sahaja tetapi adalah dsertai oleh ibadat dan pengabadian kita.

Apabila seorang itu mati, maka ia bersangkut-paut dengan Allah sahaja. Jika kita terpaksa hidup dengan orang lain, kebahagiaan kita bergantung kepada darjah kemesraan kita terhadap orang itu. Cinta itu adalah benih kebahagiaan, dan Cinta kepada Allah itu dimaju dan dibangun melalui ibadat. Ibadat dan sentiasa mengenang Allah itu memerlukan kita supaya bersikap sederhana dan mengekang kehendak-kehendak badan. Ini bukanlah bererti semua kehendak badan itu dihapuskan; kerana itu akan menyebabkan hapusnya bangsa manusia. Apa yang diperlukan ialah membatas atau mengehad kehendak-kehendak badan itu. Oleh itu seseorang itu bukanlah Hakim yang paling bijak untuk mengadili dirinya sendiri tentang Had itu. Maka ia lebih baik merundingi pemimpin-pemimpin keruhanian dalam perkara ini, dan hukum-hukum yang mereka bawa melalui Wahyi Ilahi menentukan batas dan Had yang mesti diperhatikan dalam hal ini. Siapa yang melanggar batas atau had ini "Menzholimi dirinya sendiri"(Al-Baqarah; 231).

Walaupun Al-Qur'an telah memberi keterangan yang nyata, masih ada juga orang yang melanggar batas kerana kejahilan mereka tentang Allah dan kejahilan ini adalah kerana beberapa sebab;

Pertama; ada golongan manusia yang kekal mencari Allah melalui pemerhatian, lalu mereka membuat kesimpulan dengan mengatakan tidak ada Tuhan dan alam ini terjadi dengan sendirinya atau wujudnya tanpa permulaan. Mereka ini seperti orang yang melihat surat yang tertulis dengan indahnya, dan mereka mengatakan surat itu sedia tertulis tanpa penulis atau telah sedia ada. Orang yang seperti ini telah jauh tersesat dan tidak berguna berhujah dan bertengkar dengan mereka. Setengah daripada orang-orang seperti ini adalah Ahli Fizik dan Ahli Kaji Bintang yang telah kita sebutkan di atas tadi.

Ada pula setengah orang keana kejahilan tentang keadaan sebenarnya Ruh itu. Mereka menyangkal adanya hidup di Akhirat dan menyangkal manusia itu diadil di sana. Mereka anggap diri mereka itu satu taraf dengan binatang dan tumbuh-tumbuhan dan akan hancur begitu sahaja.

Ada juga orang yang percaya dengan Allah dan Hari Akhirat, tetapi kepercayaan atau Iman mereka itu sangat lemah. Mereka berkata kepada diri mereka sendiri;

"Allah itu Maha Agung dan tidak ada sangkut-paut dengan kita, walaupin kita sembah Dia atau tidak; tidak menjadi apa-apa kepadaNya".

Fikiran mereka ini seperti orang sakit yang disuruh makan ubat, tetapi ia berkata; "Apa untung atau ruginya doktor itu jika aku makan ubat atau tidak makan ubat?". Memang tidak terjadi apa-apa kepada doktor itu tetapi pesakit itulah yang akan bertambah teruk kerana degilnya. Badan yang sakit berakhir dengan mati. Maka Ruh atau Jiwa yang sakit berakhir dengan kesusahan dan kesiksaan di akhirat nanti, seperti firman Allah Taala dalam Al-Qur'an yang bermaksud;

"Hanya mereka yang kembali kepada Allah dengan hati yang Salim itulah yang akan terselamat".

Jenis orang yang tidak beriman yang keempat ialah mereka yang berkata;

"Hukum Syariat menyuruh kita jangan marah, jangan menurut nafsu, jangan bersikap munafik. Ini tidak mungkin kerana sifat-sifat ini telah memang ada semula jadi pada kita. Lebih baik tuan suruh saya membuat yang hitam itu jadi putih".

Mereka ini sebenarnya bodoh. Mereka jahil dengan hukum Syariat. Hukum Syariat tidak menyuruh manusia membuang sama sekali perasaan itu, tetapi hendaklah ianya dikontrol supaya tidak melanggar batas yang dibenarkan. Supaya dengan mengelakkan diri dari dosa besar, kita boleh memohon keampunan terhadap dosa-dosa kita yang kecil. Sedangkan Rasulullah ada bersabda;

"Saya ini manusia juga seperti kamu, dan marah juga seperti orang lain".

Firman Allah dalam Al-Qur'an;

"Allah kasih kepada mereka yang menahan kemarahan mereka".(Al-Imran:146)

Ini bererti bukan mereka yang tidak ada langsung perasaan marah.

Golongan yang kelima ialah mereka yang menekankan Kemurahan Tuahn sahaja tetapi mengenepikan KeadilanNya, lalu mereka berkata kepada diri mereka sendiri;

"Kami buat apa sahaja kerana Allah itu Maha Pemurah dan Maha Penyayang".

Mereka tidak ingat meskipun Allah itu Pengasih dan Penyayang, namun beribu-ribu manusia mati kebuluran dan kerana penyakit. Meraka tahu, barangsiapa hendak hidup atau hendak kaya, atau hendak belajar, mestilah jangan hanya berkata; "Allah itu Kasih Sayang". tetapi perlulah ia berusaha sungguh-sungguh. Meskipun ada firman Allah dalam Al-Qur'an; "Tiap-tiap makhluk yang hidup itu Allah beri ia rezeki"(Surah Hud:06); tetapi hendaklah juga ingat Allah juga berfirman; "Manusia tidak akan mendapat apa-apa kecuali dengan berusaha". Sebenarnya mereka yang berpendapat di atas itu adlah dipengaruhi oleh Syaitan dan mereka bercakap di mulut sahaja, bukan di hati.

Golongan keenam pula menganggap mereka telah sampai ke taraf kesucian dan tidak berdosa lagi. Tetapi kalau anda layan mereka dengan kasar dan tidak hormat, anda akan dengar mereka merungut bertahun-tahun mengata anda; dan jika anda ambil makanan sesuap pun yang sepatutunya mereka perolehi dari mereka, seluruh alam ini kelihatan gelap dan sempit pada perasaan mereka. Jikalau pun mereka itu sebenarnya telah dapat menakluki hawa nafsu mereka, mereka tidak berhak menganggap dan mengatakan diri mereka itu tidak berdosa lagi, kerana Nabi Muhammad SAW. sendiri, manusia yang paling tinggi darjatnya, sentiasa mengaku salah dan memohon ampun kepada Allah. Setengah daripada Rasul-rasul itu sangat takut berbuat dosa sehingga daripada perkara-perkara yang halal pun mereka menghidarkan diri mereka.

Adalah diriwayatkan, suatu hari Nabi Muhammad SAW. telah diberi sebiji Tamar. Beliau enggan memakannya kerena beliau tidak pasti sama ada Tamar itu ddapati secara halal atau tidak. Tetapi mereka menelan arak bergelen-gelen banyaknya dan berkata mereka lebih mulia daripada Nabi. (Saya menggeletar semasa menulis ini) pada hal sebutir Tamar pun tidak disentuh oleh Nabi jika belum pasti sama ada halal atau tidak. Sesungguhnya mereka telah diheret dan disesatkan oleh Iblis.

Aulia Allah yang sebenarnya mengetahui bahawa orang yang tidak menakluki hawa nafsunya tidak patut dipanggil "orang" dan orang Islam yang sebenarnya ialah mereka yang dengan rela hati tidak mahu melanggar Syariat sewenang-wenangnya. Mereka yang melanggar Syariat adalah sebenarnya dipengaruhi oleh Syaitan dan mereka ini sepatutnya bukan dinasihati dengan pena, tetapi adalah sewajarnya dengan pedang.

Sufi-sufi yang palsu ini kadang-kadang berpura-pura tenggelam dalam lautan kehairanan atau tidak sedar, tetapi jika anda tanya mereka apakah yang mereka hairankan itu, mereka tidak tahu. Sepatutnya mereka disuruh menungkan kehairanan sebanyak-banyak yang mereka suka, tetapi di samping itu hendaklah ingat bahawa Allah Subhanahuwa Taala itu adalah Pencipta mereka dan mereka itu adalah hamba Allah sahaja.

Sumber : http://www.angelfire.com/journal/suluk/kimia4.html

PARA PEMELUK ISLAM YANG PALING PERTAMA (As-Sabiqun al-Awwalun)


As-Sabiqun al-Awwalun (Arab: السَّابِقُونَ الأَوَّلُونَ) adalah orang-orang terdahulu yang pertama kali masuk/memeluk Islam. Mereka adalah dari golongan kaum Muhajirin dan Anshar,[1] mereka semua sewaktu masuk Islam berada di kota Mekkah, sekitar tahun 610 Masehi pada abad ke-7.[2] Pada masa penyebaran Islam awal, para sahabat nabi di mana jumlahnya sangat sedikit dan golongan As-Sabiqun Al-Awwalun yang rata-ratanya adalah orang miskin dan lemah.


I. ETIMOLOGI

Akar kalimat as-Sabiqun dalam bahasa Arab berakar dari huruf S-B-Q (س-ب-ق Sin-Ba-Qaf), Sabaqa (سبقا) sebuah kata kerja yang artinya mendahulukan, pergi sebelum, lebih dahulu, melampaui, juga berarti “sudah” atau sebelum; aksi pendahulu, bergerak sebelumnya dan sebagainya, contoh:

“ Dan (malaikat-malaikat) yang mendahului dengan kencang…(An-Nazi’at, 79:4) ”

yang artinya melewati atau melampaui. Sabaqa: berpacu (kata kerja). Sabiq: bertindak.[3]

Kemudian kalimat al-Awwalun terdiri dari huruf A-W-L (ا-و-ل Alif-Wau-Lam), Awwal (اول) sebuah kata yang artinya pertama atau awal, kemudian kata ini diserap kedalam bahasa Indonesia, yang memiliki makna yang sama pula.

II. KERASULAN MUHAMMAD SAW

2.1 Awal kerasulan

Muhammad dilahirkan di tengah-tengah masyarakat terbelakang yang senang dengan kekerasan, pertempuran dan penyembahan berhala. Ia sering menyendiri ke Gua Hira’, sebuah gua bukit dekat Mekkah, yang kemudian dikenali sebagai Jabal An Nur karena bertentangan sikap dengan kebudayaan Arab pada zaman tersebut. Di sinilah ia sering berpikir dengan mendalam, memohon kepada Allah supaya memusnahkan kekafiran dan kebodohan.

Pada suatu malam, ketika Muhammad sedang bertafakur di Gua Hira’, Malaikat Jibril mendatanginya. Jibril membangkitkannya dan menyampaikan wahyu Allah di telinganya. Ia diminta membaca. Ia menjawab, “Saya tidak bisa membaca”. Jibril mengulangi tiga kali meminta agar Muhammad membaca, tetapi jawabannya tetap sama. Akhirnya, Jibril berkata:

“ Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dengan nama Tuhanmu yang Maha Pemurah, yang mengajar manusia dengan perantaraan (menulis, membaca). Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (Al-Alaq 96: 1-5) ”

Ini merupakan wahyu pertama yang diterima oleh Muhammad. Ketika itu ia berusia 40 tahun. Wahyu turun kepadanya secara berangsur-angsur dalam jangka waktu 23 tahun. Wahyu tersebut telah diturunkan menurut urutan yang diberikan Muhammad, dan dikumpulkan dalam kitab bernama Al Mushaf yang juga dinamakan Al-Quran (bacaan).

2.2 Pendakwahan

2.2.1 Siriyyah (rahasia)

Selama tiga tahun pertama, Muhammad hanya menyebarkan agama terbatas kepada teman-teman dekat dan kerabatnya, pendapat ini dikemukakan oleh Ibnu ishaq dan Al-Waqidi. Kebanyakan dari mereka yang percaya dan meyakini ajaran Muhammad adalah para anggota keluarganya, tetapi tidak semua orang terdekatnya mau menerima dakwah ini. Sebagai contoh Abu Thalib yang tidak meyakini ajaran yang dibawa oleh Muhammad. Begitu pula dengan salah satu pamannya yang bernama Abu Lahab, bahkan menjadi penentang keras dakwah Muhammad.

Muhammad menjadi nabi dan berdakwah pada kisaran tahun 610 – 614 Masehi. Setelah adanya wahyu, surat Al-Muddatsir: 1-7, yang artinya:

“ Hai orang yang berkemul (berselimut), bangunlah, lalu berilah peringatan! dan Rabbmu agungkanlah, dan pakaianmu bersihkanlah, dan perbuatan dosa (menyembah berhala) tinggalkanlah, dan janganlah kamu memberi (dengan maksud) memperoleh (balasan) yang lebih banyak. Dan untuk (memenuhi perintah) Rabbmu, bersabarlah. (Al-Mudatsir 74: 1-7) ”

Dengan turunnya surat Al-Muddatsir ini, mulailah Rasulullah berdakwah. Mula-mula ia melakukannya secara sembunyi-sembunyi di lingkungan keluarga, sahabat, pengasuh dan budaknya. Orang pertama yang menyambut dakwahnya adalah Khadijah, istrinya. Dialah yang pertama kali masuk Islam. Menyusul setelah itu adalah Ali bin Abi Thalib, saudara sepupunya yang kala itu baru berumur 10 tahun, sehingga Ali menjadi lelaki pertama yang masuk Islam.

Kemudian Abu Bakar, sahabat karibnya sejak masa kanak-kanak. Baru kemudian diikuti oleh Zaid bin Haritsah, bekas budak yang telah menjadi anak angkatnya, dan Ummu Aiman, pengasuh Muhammad sejak ibunya masih hidup. Setelah mereka, lalu masuk yang lainnya. Abu Bakar sendiri kemudian berhasil mengislamkan beberapa orang teman dekatnya, seperti, Utsman bin Affan, Zubair bin Awwam, Abdurrahman bin Auf, Sa’ad bin Abi Waqqas, dan Thalhah bin Ubaidillah. Dari dakwah yang masih rahasia ini, belasan orang telah masuk Islam. Sedangkan menurut sejarah Islam, putri Abu Bakar yaitu Aisyah adalah orang ke 21 atau 22 yang masuk Islam.[4]

Syaikh Al-Albani mengatakan: “Lelaki dewasa dan merdeka yang pertama kali beriman adalah Abu Bakar, dari kalangan anak-anak adalah Ali bin Abi Thalib, dari kalangan budak Zaid bin Haritsah.[5]

2.2.2 Terbuka

Dakwah secara siriyyah ini dilakukan selama kurang lebih 3 tahun dan setelah orang Islam berjumlah 40 orang [6], maka turunlah ayat

“ Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat (Asy-Syu’ara, 26:214) ”

dan juga pada ayat,

“ Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang musyrik. Sesungguhnya kami memelihara kamu daripada (kejahatan) orang-orang yang memperolok-olokkan (kamu). (Al-Hijr ayat 15:94-95) ”

Muhammad mulai terbuka menjalankan dakwah secara terang-terangan. Mula-mula ia mengundang kerabat karibnya bangsa Quraisy dalam sebuah jamuan. Pada kesempatan itu ia menyampaikan ajarannya.

Namun ternyata hanya sedikit yang menerimanya. Sebagian menolak dengan halus, sebagian menolak dengan kasar, salah satunya adalah Abu Lahab dan istrinya Ummu Jamil. Mereka sangat membenci ajaran yang dibawa oleh Muhammad.

Sebelum kelahiran Muhammad, orang-orang Arab Quraisy adalah para penyembah berhala. Mereka suka membunuh anak laki-Iaki dan menanam hidup-hidup anak perempuan. Mereka mudah membunuh sebagian yang lain hanya karena hal-hal yang sepele. Oleh karena itu ketika Muhammad mengajak mereka untuk menyembah Allah yang Esa, meninggalkan kepercayaan mereka, mereka marah besar. Mereka yang semula cinta kepadanya berubah menjadi kebencian dan kemarahan. Sedangkan mereka yang semula membenarkan Muhammad, telah berubah menjadi orang-orang yang mendustakannya.

2.2.3 Madrasah Pertama


Madrasah Rasulullah saw

Muhammad saw mulai merasa perlu mencari sebuah tempat bagi para pemeluk Islam dapat berkumpul bersama. Di tempat itu akan diajarkan kepada mereka tentang prinsip-prinsip Islam, membacakan ayat-ayat Al-Qur’an, menerangkan makna dan kandungannya, menjelaskan hukum-hukumnya dan mengajak mereka untuk melaksanakan dan mempraktikkannya. Pada akhirnya Muhammad memilih sebuah rumah di bukit Shafa milik Abu Abdillah al-Arqam bin Abi al-Arqam. Semua kegiatan itu dilakukan secara rahasia tanpa sepengetahuan siapa pun dari kalangan orang-orang kafir.

Rumah Abu Abdillah al-Arqam bin Abi al-Arqam ini merupakan Madrasah pertama sepanjang sejarah Islam,[7] tempat ilmu pengetahuan dan amal saleh diajarkan secara terpadu oleh sang guru pertama, yaitu Muhammad Rasulallah. Ia sendiri yang mengajar dan mengawasi proses pendidikan disana.

2.3 Daftar As-Sabiqun al-Awwalun

Ibnu Hisyam pernah menulis 40 nama as-sabiqun al-awwalun. Ia menulis Khadijah dalam nomor urut pertama, Asma’ di nomor urut 18, dan Aisyah di nomor urut 19. Umar bin Khattab berada jauh di bawah Aisyah.[8]

Yang termasuk As-Sabiqun Al-Awwalun adalah sebagai berikut:
01. Khadijah binti Khuwailid
02. Zaid bin Haritsah
03. Ali bin Abi Thalib
04. Abu Bakar Al-Shiddiq
05. Bilal bin Rabah
06. Ummu Aiman
07. Hamzah bin Abdul Muthalib
08. Abbas bin Abdul Muthalib
09. Abdullah bin Abdul-Asad
10. Ubay bin Kaab
11. Abdullah bin Rawahah
12. Abdullah bin Mas’ud
13. Mus’ab bin Umair
14. Mua’dz bin Jabal
15. Aisyah binti Abu Bakar Ash-shiddiq
16. Umar bin Khattab
17. Utsman bin Affan
18. Arwa’ binti Kuraiz
19. Zubair bin Awwam bin Khuwailid
20. Abdurrahman bin Auf
21. Sa’ad bin Abi Waqqas
22. Thalhah bin Ubaidillah
23. Abdullah bin Zubair
24. Miqdad bin Aswad
25. Utsman bin Mazh’un
26. Said bin Zayd bin Amru
27. Abu Ubaidah bin al-Jarrah
28. Waraqah bin Naufal
29. Abu Dzar Al-Ghiffari
30. Umar bin Anbasah
31. Sa’id bin Al-Ash
32. Abu Salamah bin Abdul Asad
33. Abu Abdillah al-Arqam bin Abi al-Arqam
34. Muawiyah bin Abu Sufyan
35. Yasir bin Amir
36. Ammar bin Yasir
37. Sumayyah binti Khayyat
38. Amir bin Abdullah
39. a’far bin Abi Thalib
40. Khabbab bin ‘Art
41. Ubaidah bin Harits
42. Ummu al-Fadl Lubaba
43. Shafiyyah
44. Asma’ binti Abu Bakr
45. Fatimah bin Khattab
46. Suhayb Ar-Rummi

Khadijah, Zaid bin Haritsah, Ali bin Abi Thalib, Abu Bakar Al-Shiddiq, Ummu Aiman, dan Bilal bin Rabah, merekalah orang yang pertama kalinya mengucap kalimat dua syahadat, lalu menyebar ke yang lainnya. Kesemuanya berasal dari kabilah Quraisy, kecuali Bilal bin Rabah.

Daftar di atas tersebut, tidaklah sesuai dengan kronologis urutan sejarah aslinya, dikarenakan penyebaran Islam ini awalnya secara rahasia, maka terlalu sulit untuk mencari siapa saja yang terlebih dahulu memeluk Islam, setelah lima besar pemeluk Islam.

2.4 Profesi

Pada awalnya golongan ini hanya terdiri dari kaum miskin dan lemah, kemudian setelah menempuh waktu semakin bertambah dan masuk beberapa orang dari lapisan golongan masyarakat, yang terdiri dari pemuka adat, pemimpin suku, panglima perang, ibu rumah tangga, anak-anak, majikan, saudagar, pengusaha, pedagang, petani, peternak binatang, pelayan rumah tangga, orang merdeka, budak.

Para budak banyak yang tertarik dengan prinsip yang diajarkan oleh Islam, yaitu tentang kesetaraan manusia di hadapan Allah, Rasulallah mempersaudarakan sebagian muslim dari golongan aristokrat Quraisy dengan sekelompok muslim lain yang dari golongan budak. Tidak ada perbedaan antara yang kaya dan miskin, kuat maupun lemah, merdeka maupun budak, Arab maupun non-Arab, semua setara. Menurut kaca mata Islam, Allah tidak pernah melihat umat-Nya berdasarkan profesi/ pangkat dan jabatan seseorang, yang Allah nilai hanya iman dan taqwa hamba-Nya.

2.5 Tugas

As-Sabiqun al-Awwalun yang Salaf, memiliki beberapa tugas penting yang harus diemban mereka. Tugas itu meliputi:

1. Bertauhid (mengesakan Allah),
2. Beriman kepada para malaikat, rasul, kitab-kitab Allah, takdir
3. Menegakkan salat,
4. Menunaikan zakat,
5. Melakukan keadilan,
6. Melakukan amal kebaikan,
7. Meninggalkan kekejian,
8. Meninggalkan kemungkaran,
9. Meninggalkan kezaliman,
10. meninggalkan penyembahan berhala,
11. Berhala harus dihancurkan,
12. Melarang kemusyrikan,
13. Darah tidak ditumpahkan,
14. Tidak ada jiwa yang harus dibunuh kecuali karena kebenaran,
15. Jalan-jalan tetap aman,
16.Tali silaturahmi terus dijalin,
17. Menjunjung tinggi kesetaraan/ kemerdekaan manusia,
18. Mencegah keburukan,
19. Mempertahanan bela agama,
20. Menyebarkan secara diam-diam agama yang dibawa oleh Muhammad.

III. SURGA BAGI AS-SABIQUN AL-AWWALUN

Menurut kepercayaan Islam, As-Sabiqun al-Awwalun akan mempunyai tempat tinggal yang mulia, Surga Jannatun Na’im.

“ Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun rida kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar (At-Taubah ayat 9:100) ”

Diperkuat oleh dalam hadits mutawatir yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari tentang tiga masa yang mendapatkan kemulian dan keutamaan muslim dan lain-lainnya, dimana Muhammad bersabda:

خَيْرُ النَّاسِ قَرْنِيْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ ثُمَّ الَّذِيْنَ يَلُوْنَهُمْ

“Sebaik-baik manusia adalah generasiku, kemudian generasi setelahnya, kemudian generasi setelahnya.” [9]

IV. KEDATANGAN ISLAM SECARA ASING DAN AKAN KEMBALI ASING

Menurut beberapa hadits yang shahih, agama Islam dikatakan pertama kali muncul dalam keadaan terasing, kemudian akan kembali menjadi asing sebagaimana semula ajaran Islam itu datang. Sementara itu orang disekelilingnya telah menjadi rusak secara aqidah dan mereka akan memusuhi ajaran Islam itu sendiri.
Pernyataan didasari beberapa hadits berikut dibawah ini:

Nabi Muhammad saw bersabda:

“Sesungguhnya Islam pertama kali muncul dalam keadaaan asing dan nanti akan kembali asing sebagaimana semula. Maka berbahagialah orang-orang yang asing (alghuroba’).” [10]

“Berbahagialah orang-orang yang asing (alghuroba’). (Mereka adalah) orang-orang shalih yang berada di tengah orang-orang yang berperangai buruk dan orang yang memusuhinya lebih banyak daripada yang mengikuti mereka.” [11]

“Berbahagialah orang-orang yang asing (alghuroba’). Yaitu mereka yang mengadakan perbaikan (ishlah) ketika manusia rusak.” [12]

Catatan kaki

1.^ Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah dan Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di dalamnya selama-lamanya. Mereka kekal di dalamnya. Itulah kemenangan yang besar. (At-Taubah 9:100)
2.^ Nabi Muhammad berdakwah yaitu pada tahun 610 Masehi.
3.^ Arti dari Sabiqun disitus web Sabiqun.net
4.^ Aisyah masuk Islam.
5.^ Shahihus Siratin Nabawiyah, hal. 99.
6.^ Sirah An-Nabawiyah, Ibnu Hisyam, 1/245-262.
7.^ Khadijah Ummul Mu’minin Nazharat Fi isyraqi Fajril Islam, Abdul Mun’im Muhammad, hal. 96 dan 155.
8.^ Sirah An-Nabawiyah, Ibnu Hisyam, 1/245-262.
9.^ Hadits sahih Imam Bukhari.
10.^ Hadits shahih riwayat Muslim.
11.^ Hadits shahih riwayat Ahmad.
12.^ Hadits shahih riwayat Abu Amr Ad Dani dan Al Ajurry.

Referensi:

Sirah An-Nabawiyah, Ibnu Hisyam, 1/245-262.
Ibnu Hisyam, Jilid I m/s 65.
As-Seerat un-Nabawiyyah, Jilid I, m/s 452, daftar urut yang sama di tulis Ibnu Ishaq.
Khadijah Ummul Mu’minin Nazharat Fi isyraqi Fajril Islam, Al Haiah Al Mishriyah Press, karya Abdul Mun’im Muhammad (1994)
Kitab-Al-Raudh Al-Aif, karya Ibnu Suhaili.
Muhammad The Final Messenger, karya Dr. Majid Ali Khan
Hadits keterasingan Islam di kajian Salafy.
Kelebihan Qiyamullail pada masa awal kedatangan Islam
(en) Asma’ Bint Abi Bakr is one of As-Sabiqun al-Awwalun
(en) History of Islam

Jumat, 15 April 2011

Musuh Tak Nyata

Musuh Tak Nyata
Jarjani Usman - Tafakur

“Jika kamu di sore hari, jangan menunggu pagi hari; dan jika kamu di pagi hari, jangan menunggu sore hari. Manfaatkan waktu sehatmu sebelum kamu sakit, dan waktu hidupmu sebelum kamu mati” (HR. Bukhari).

Mengenal musuh, bagi sebahagian orang, sama artinya mengenal cara berjuang melawannya. Dan musuh yang perlu dikenali dan dilawan tidak mesti yang nampak dilihat, tetapi juga yang tidak terlihat. Di antaranya, kebodohan, kelalaian, kemalasan, dan sejenisnya.

Bila kebodohan, kemalasan dan kelalaian dianggap musuh yang tak terlihat, maka sasaran perjuangannya tentunya adalah melawannya dengan sekuat tenaga. Tentunya melawan musuh tak terlihat bukan sebuah perjuangan singkat. Tentang tidak singkatnya perjuangan melawan kebodohan juga disebutkan Rasulullah s.a.w. dalam suatu haditsnya, yaitu tentang kewajiban menuntut ilmu sejak dari ayunan hingga ke liang lahat. Tidak ada istilah berhenti.

Demikian juga perjuangan melawan kelalaian dan kemalasan. Terhadap hal ini, Rasulullah juga mengingatkan agar kita tidak lalai dalam memanfaatkan waktu. Penting menjaga waktu muda, sebelum tua; menjaga waktu sehat, sebelum sakit, menjaga waktu hidup, sebelum mati; dan menjaga waktu kaya, sebelum miskin. Bilal lalai dalam menjaga waktu-waktu seperti yang pernah diterangkan Rasulullah, maka suka atau tidak suka, akan menuai penyesalan yang panjang. Laksana kemenangan yang sudah berpeluang diraih, tapi sirna karena kelalaian.

Selasa, 12 April 2011

ANTROPOLOGI DAN KONSEP KEBUDAYAAN

A. PENDAHULUAN

Seorang filsuf China; Lao Chai, pernah berkata bahwa suatu perjalanan yang bermil-mil jauhnya dimulai dengan hanya satu langkah. Pembaca dari materi ini juga baru memulai suatu langkah kedalam lapangan dari suatu bidang ilmu yang disebut dengan Antropologi.

Benda apa yang disebut dengan Antropologi itu? Beberapa atau bahkan banyak orang mungkin sudah pernah mendengarnya. Beberapa orang mungkin mempunyai ide-ide tentang Antropologi yang didapat melalui berbagai media baik media cetak maupun media elektronik. Beberapa orang lagi bahkan mungkin sudah pernah membaca literature-literature atau tulisan-tulisan tentang Antropologi.

Banyak orang berpikir bahwa para ahli Antropologi adalah ilmuwan yang hanya tertarik pada peninggalan-peninggalan masa lalu; Antroplogi bekerja menggali sisa-sisa kehidupan masa lalu untuk mendapatkan pecahan guci-guci tua, peralatan –peralatan dari batu dan kemudian mencoba memberi arti dari apa yang ditemukannya itu.

Pandangan yang lain mengasosiasikan Antropologi dengan teori Evolusi dan mengenyampingkan kerja dari Sang Pencipta dalam mempelajari kemunculan dan perkembangan mahluk manusia. Masyarakat yang mempunyai pandangan yang sangat keras terhadap penciptaan manusia dari sudut agama kemudian melindungi bahkan melarang anak-anak mereka dari Antroplogi dan doktrin-doktrinnya. Bahkan masih banyak orang awam yang berpikir kalau Antropologi itu bekerja atau meneliti orang-orang yang aneh dan eksotis yang tinggal di daerah-daerah yang jauh dimana mereka masih menjalankan kebiasaan-kebiasaan yang bagi masyarakat umum adalah asing.

Semua pandangan tentang ilmu Antroplogi ini pada tingkat tertentu ada benarnya, tetapi seperti ada cerita tentang beberapa orang buta yang ingin mengetahui bagaimana bentuk seekor gajah dimana masing-masing orang hanya meraba bagian-bagian tertentu saja sehingga anggapan mereka tentang bentuk gajah itupun menjadi bermacam-macam, terjadi juga pada Antropologi. Pandangan yang berdasarkan informasi yang sepotong-sepotong ini mengakibatkan kekurang pahaman masyarakat awam tentang apa sebenarnya Antropologi itu.

Antropologi memang tertarik pada masa lampau. Mereka ingin tahu tentang asal-mula manusia dan perkembangannya, dan mereka juga mempelajari masyarakat-masyarakat yang masih sederhana (sering disebut dengan primitif). Tetapi sekarang Antropologi juga mempelajari tingkah-laku manusia di tempat-tempat umum seperti di restaurant, rumah-sakit dan di tempat-tempat bisnis modern lainnya. Mereka juga tertarik dengan bentuk-bentuk pemerintahan atau negara modern yang ada sekarang ini sama tertariknya ketika mereka mempelajari bentuk-bentuk pemerintahan yang sederhana yang terjadi pada masa lampau atau masih terjadi pada masyarakat-masyarakat di daerah yang terpencil.

B. BIDANG ILMU ANTROPOLOGI

Dalam kenyataannya, Antropologi mempelajari semua mahluk manusia yang pernah hidup pada semua waktu dan semua tempat yang ada di muka bumi ini. Mahluk manusia ini hanyalah satu dari sekian banyak bentuk mahluk hidup yang ada di bumi ini yang diperkirakan muncul lebih dari 4 milyar tahun yang lalu.

Antropologi bukanlah satu satunya ilmu yang mempelajari manusia. Ilmu-ilmu lain seperti ilmu Politik yang mempelajari kehidupan politik manusia, ilmu Ekonomi yang mempelajari ekonomi manusia atau ilmu Fisiologi yang mempelajari tubuh manusia dan masih banyak lagi ilmuilmu lain, juga mempelajari manusia. Tetapi ilmu-ilmu ini tidak mempelajari atau melihat manusia secara menyeluruh atau dalam ilmu Antropologi disebut dengan Holistik, seperti yang dilakukan oleh Antropologi. Antropologi berusaha untuk melihat segala aspek dari diri mahluk manusia pada semua waktu dan di semua tempat, seperti: Apa yang secara umum dimiliki oleh semua manusia? Dalam hal apa saja mereka itu berbeda? Mengapa mereka bertingkah-laku seperti itu? Ini semua adalah beberapa contoh pertanyaan mendasar dalam studi-studi Antropologi.

B.1. Cabang-cabang dalam Ilmu Antropologi

Seperti ilmu-ilmu lain, Antropologi juga mempunyai spesialisasi atau pengkhususan. Secara umum ada 3 bidang spesialisasi dari Antropologi, yaitu Antropologi Fisik atau sering disebut juga dengan istilah Antropologi Ragawi. Arkeologi dan Antropologi Sosial-Budaya.

B.1.1. Antropologi Fisik

Antropologi Fisik tertarik pada sisi fisik dari manusia. Termasuk didalamnya mempelajari gen-gen yang menentukan struktur dari tubuh manusia. Mereka melihat perkembangan mahluk manusia sejak manusia itu mulai ada di bumi sampai manusia yang ada sekarang ini. Beberapa ahli Antropologi Fisik menjadi terkenal dengan penemuan-penemuan fosil yang membantu memberikan keterangan mengenai perkembangan manusia. Ahli Antropologi Fisik yang lain menjadi terkenal karena keahlian forensiknya; mereka membantu dengan menyampaikan pendapat mereka pada sidang-sidang pengadilan dan membantu pihak berwenang dalam penyelidikan kasus-kasus pembunuhan.

B.1.2. Arkeologi

Ahli Arkeologi bekerja mencari benda-benda peninggalan manusia dari masa lampau. Mereka akhirnya banyak melakukan penggalian untuk menemukan sisa-sisa peralatan hidup atau senjata. Benda –benda ini adalah barang tambang mereka. Tujuannya adalah menggunakan bukti-bukti yang mereka dapatkan untuk merekonstruksi atau membentuk kembali model-model kehidupan pada masa lampau. Dengan melihat pada bentuk kehidupan yang direnkonstruksi tersebut dapat dibuat dugaan-dugaan bagaimana masyarakat yang sisa-sisanya diteliti itu hidup atau bagaimana mereka datang ketempat itu atau bahkan dengan siapa saja mereka itu dulu berinteraksi.

B.1.3. Antropologi Sosial-Budaya

Antropologi Sosial-Budaya atau lebih sering disebut Antropologi Budaya berhubungan dengan apa yang sering disebut dengan Etnologi. Ilmu ini mempelajari tingkah-laku manusia, baik itu tingkah-laku individu atau tingkah laku kelompok. Tingkah-laku yang dipelajari disini bukan hanya kegiatan yang bisa diamati dengan mata saja, tetapi juga apa yang ada dalam pikiran mereka. Pada manusia, tingkah-laku ini tergantung pada proses pembelajaran. Apa yang mereka lakukan adalah hasil dari proses belajar yang dilakukan oleh manusia sepanjang hidupnya disadari atau tidak. Mereka mempelajari bagaimana bertingkah-laku ini dengan cara mencontoh atau belajar dari generasi diatasnya dan juga dari lingkungan alam dan sosial yang ada disekelilingnya. Inilah yang oleh para ahli Antropologi disebut dengan kebudayaan. Kebudayaan dari kelompok-kelompok manusia, baik itu kelompok kecil maupun kelompok yang sangat besar inilah yang menjadi objek spesial dari penelitian-penelitian Antropologi Sosial Budaya. Dalam perkembangannya Antropologi Sosial-Budaya ini memecah lagi kedalam bentuk-bentuk spesialisasi atau pengkhususan disesuaikan dengan bidang kajian yang dipelajari atau diteliti. Antroplogi Hukum yang mempelajari bentuk-bentuk hukum pada kelompok-kelompok masyarakat atau Antropologi Ekonomi yang mempelajari gejala-gejala serta bentuk-bentuk perekonomian pada kelompok-kelompok masyarakat adalah dua contoh dari sekian banyak bentuk spesialasi dalam Antropologi Sosial-Budaya.

C. KONSEP KEBUDAYAAN

Kata Kebudayaan atau budaya adalah kata yang sering dikaitkan dengan Antropologi. Secara pasti, Antropologi tidak mempunyai hak eksklusif untuk menggunakan istilah ini. Seniman seperti penari atau pelukis dll juga memakai istilah ini atau diasosiasikan dengan istilah ini, bahkan pemerintah juga mempunyai departemen untuk ini. Konsep ini memang sangat sering digunakan oleh Antropologi dan telah tersebar kemasyarakat luas bahwa Antropologi bekerja atau meneliti apa yang sering disebut dengan kebudayaan. Seringnya istilah ini digunakan oleh Antropologi dalam pekerjaan-pekerjaannya bukan berarti para ahli Antropolgi mempunyai pengertian yang sama tentang istilah tersebut. Seorang Ahli Antropologi yang mencoba mengumpulkan definisi yang pernah dibuat mengatakan ada sekitar 160 defenisi kebudayaan yang dibuat oleh para ahli Antropologi. Tetapi dari sekian banyak definisi tersebut ada suatu persetujuan bersama diantara para ahli Antropologi tentang arti dari istilah tersebut. Salah satu definisi kebudayaan dalam Antropologi dibuat seorang ahli bernama Ralph Linton yang memberikan defenisi kebudayaan yang berbeda dengan pengertian kebudayaan dalam kehidupan sehari-hari:

“Kebudayaan adalah seluruh cara kehidupan dari masyarakat dan tidak hanya mengenai sebagian tata cara hidup saja yang dianggap lebih tinggi dan lebih diinginkan”.

Jadi, kebudayaan menunjuk pada berbagai aspek kehidupan. Istilah ini meliputi cara-cara berlaku, kepercayaan-kepercayaan dan sikap-sikap, dan juga hasil dari kegiatan manusia yang khas untuk suatu masyarakat atau kelompok penduduk tertentu.

Seperti semua konsep-konsep ilmiah, konsep kebudayaan berhubungan dengan beberapa aspek “di luar sana” yang hendak diteliti oleh seorang ilmuwan. Konsep-konsep kebudayaan yang dibuat membantu peneliti dalam melakukan pekerjaannya sehingga ia tahu apa yang harus dipelajari. Salah satu hal yang diperhatikan dalam penelitian Antropologi adalah perbedaan dan persamaan mahluk manusia dengan mahluk bukan manusia seperti simpanse atau orang-utan yang secara fisik banyak mempunyai kesamaan-kesamaan. Bagaimana konsep kebudayaan membantu dalam membandingkan mahluk-mahluk ini? Isu yang sangat penting disini adalah kemampuan belajar dari berbagai mahluk hidup. Lebah melakukan aktifitasnya hari demi hari, bulan demi bulan dan tahun demi tahun dalam bentuk yang sama. Setiap jenis lebah mempunyai pekerjaan yang khusus dan melakukan kegiatannya secara kontinyu tanpa memperdulikan perubahan lingkungan disekitarnya. Lebah pekerja terus sibuk mengumpulkan madu untuk koloninya. Tingkah laku ini sudah terprogram dalam gen mereka yang berubah secara sangat lambat dalam mengikuti perubahan lingkungan di sekitarnya. Perubahan tingkah laku lebah akhirnya harus menunggu perubahan dalam gen nya. Hasilnya adalah tingkah-laku lebah menjadi tidak fleksibel. Berbeda dengan manusia, tingkah laku manusia sangat fleksibel. Hal ini terjadi karena kemampuan yang luar biasa dari manusia untuk belajar dari pengalamannya. Benar bahwa manusia tidak terlalu istimewa dalam belajar karena mahluk lainnya pun ada yang mampu belajar, tetapi kemampuan belajar dari manusia sangat luar-biasa dan hal lain yang juga sangat penting adalah kemampuannya untuk beradaptasi dengan apa yang telah dipelajari itu.

C.1. Kebudayaan Diperoleh dari Belajar

Kebudayaan yang dimiliki oleh manusia juga dimiliki dengan cara belajar. Dia tidak diturunkan secara bilogis atau pewarisan melalui unsur genetis. Hal ini perlu ditegaskan untuk membedakan perilaku manusia yang digerakan oleh kebudayaan dengan perilaku mahluk lain yang tingkah-lakunya digerakan oleh insting.

Ketika baru dilahirkan, semua tingkah laku manusia yang baru lahir tersebut digerakkan olen insting dan naluri. Insting atau naluri ini tidak termasuk dalam kebudayaan, tetapi mempengaruhi kebudayaan. Contohnya adalah kebutuhan akan makan. Makan adalah kebutuhan dasar yang tidak termasuk dalam kebudayaan. Tetapi bagaimana kebutuhan itu dipenuhi; apa yang dimakan, bagaimana cara memakan adalah bagian dari kebudayaan. Semua manusia perlu makan, tetapi kebudayaan yang berbeda dari kelompok-kelompoknya menyebabkan manusia melakukan kegiatan dasar itu dengan cara yang berbeda. Contohnya adalah cara makan yang berlaku sekarang. Pada masa dulu orang makan hanya dengan menggunakan tangannya saja, langsung menyuapkan makanan kedalam mulutnya, tetapi cara tersebut perlahan lahan berubah, manusia mulai menggunakan alat yang sederhana dari kayu untuk menyendok dan menyuapkan makanannya dan sekarang alat tersebut dibuat dari banyak bahan. Begitu juga tempat dimana manusia itu makan. Dulu manusia makan disembarang tempat, tetapi sekarang ada tempat-tempat khusus dimana makanan itu dimakan. Hal ini semua terjadi karena manusia mempelajari atau mencontoh sesuatu yang dilakukan oleh generasi sebelumya atau lingkungan disekitarnya yang dianggap baik dan berguna dalam hidupnya.

Sebaliknya kelakuan yang didorong oleh insting tidak dipelajari. Semut semut yang dikatakan bersifat sosial tidak dikatakan memiliki kebudayaan, walaupun mereka mempunyai tingkah-laku yang teratur. Mereka membagi pekerjaannya, membuat sarang dan mempunyai pasukan penyerbu yang semuanya dilakukan tanpa pernah diajari atau tanpa pernah meniru dari semut yang lain. Pola kelakuan seperti ini diwarisi secara genetis.

C.2. Kebudayaan Milik Bersama

Agar dapat dikatakan sebagai suatu kebudayaan, kebiasaan-kebiasaan seorang individu harus dimiliki bersama oleh suatu kelompok manusia. Para ahli Antropologi membatasi diri untuk berpendapat suatu kelompok mempunyai kebudayaan jika para warganya memiliki secara bersama sejumlah pola-pola berpikir dan berkelakuan yang sama yang didapat melalui proses belajar.

Suatu kebudayaan dapat dirumuskan sebagai seperangkat kepercayaan, nilai-nilai dan cara berlaku atau kebiasaan yang dipelajari dan yang dimiliki bersama oleh para warga dari suatu kelompok masyarakat. Pengertian masyarakat sendiri dalam Antropologi adalah sekelompok orang yang tinggal di suatu wilayah dan yang memakai suatu bahasa yang biasanya tidak dimengerti oleh penduduk tetangganya.

C.3. Kebudayaan sebagai Pola

Dalam setiap masyarakat, oleh para anggotanya dikembangkan sejumlah pola-pola budaya yang ideal dan pola-pola ini cenderung diperkuat dengan adanya pembatasan-pembatasan kebudayaan. Pola-pola kebudayaan yang ideal itu memuat hal-hal yang oleh sebagian besar dari masyarakat tersebut diakui sebagai kewajiban yang harus dilakukan dalam keadaan-keadaan tertentu. Pola-pola inilah yang sering disebut dengan norma-norma, Walaupun kita semua tahu bahwa tidak semua orang dalam kebudayaannya selalu berbuat seperti apa yang telah mereka patokkan bersama sebagai hal yang ideal tersebut. Sebab bila para warga masyarakat selalu mematuhi dan mengikuti norma-norma yang ada pada masyarakatnya maka tidak akan ada apa yang disebut dengan pembatasan-pembatasan kebudayaan. Sebagian dari pola-pola yang ideal tersebut dalam kenyataannya berbeda dengan perilaku sebenarnya karena pola-pola tersebut telah dikesampingkan oleh cara-cara yang dibiasakan oleh masyarakat.

Pembatasan kebudayaan itu sendiri biasanya tidak selalu dirasakan oleh para pendukung suatu kebudayaan. Hal ini terjadi karena individu-individu pendukungnya selalu mengikuti cara-cara berlaku dan cara berpikir yang telah dituntut oleh kebudayaan itu. Pembatasan-pembatasan kebudayaan baru terasa kekuatannya ketika dia ditentang atau dilawan. Pembatasan kebudayaan terbagi kedalam 2 jenis yaitu pembatasan kebudayaan yang langsung dan pembatasan kebudayaan yang tidak langsung. Pembatasan langsung terjadi ketika kita mencoba melakukan suatu hal yang menurut kebiasaan dalam kebudayaan kita merupakan hal yang tidak lazim atau bahkan hal yang dianggap melanggar tata kesopanan atau yang ada. Akan ada sindiran atau ejekan yang dialamatkan kepada sipelanggar kalau hal yang dilakukannya masih dianggap tidak terlalu berlawanan dengan kebiasaan yang ada, akan tetapi apabila hal yang dilakukannya tersebut sudah dianggap melanggar tata-tertib yang berlaku dimasyarakatnya, maka dia mungkin akan dihukum dengan aturan-aturan yang berlaku dalam masyarakatnya. Contoh dari pembatasan langsung misalnya ketika seseorang melakukan kegiatan seperti berpakaian yang tidak pantas kedalam gereja. Ada sejumlah aturan dalam setiap kebudayaan yang mengatur tentang hal ini. Kalau si individu tersebut hanya tidak mengenakan baju saja ketika ke gereja, mungkin dia hanya akan disindir atau ditegur dengan pelan. Akan tetapi bila si individu tadi adalah seorang wanita dan dia hanya mengenakan pakaian dalam untuk ke gereja, dia mungkin akan di tangkap oleh pihak-pihak tertentu karena dianggap mengganggu ketertiban umum. Dalam pembatasan-pembatasan tidak langsung, aktifitas yang dilakukan oleh orang yang melanggar tidak dihalangi atau dibatasi secara langsung akan tetapi kegiatan tersebut tidak akan mendapat respons atau tanggapan dari anggota kebudayaan yang lain karena tindakan tersebut tidak dipahami atau dimengerti oleh mereka. Contohnya: tidak akan ada orang yang melarang seseorang di pasar Hamadi, Jayapura untuk berbelanja dengan menggunakan bahasa Polandia, akan tetapi dia tidak akan dilayani karena tidak ada yang memahaminya.

Pembatasan-pembatasan kebudayaan ini tidak berarti menghilangkan kepribadian seseorang dalam kebudayaannya. Memang kadang-kadang pembatasan kebudayaaan tersebut menjadi tekanan-tekanan sosial yang mengatur tata-kehidupan yang berjalan dalam suatu kebudayaan, tetapi bukan berarti tekanan-tekanan sosial tersebut menghalangi individu-individu yang mempunyai pendirian bebas. Mereka yang mempunyai pendirian seperti ini akan tetap mempertahankan pendapat-pendapat mereka, sekalipun mereka mendapat tentangan dari pendapat yang mayoritas.

Kenyataan bahwa banyak kebudayaan dapat bertahan dan berkembang menunjukkan bahwa kebiasaan-kebiasaan yang dikembangkan oleh masyarakat pendukungnya disesuaikan dengan kebutuhan-kebutuhan tertentu dari lingkungannya. Ini terjadi sebagai suatu strategi dari kebudayaan untuk dapat terus bertahan, karena kalau sifat-sifat budaya tidak disesuaikan kepada beberapa keadaan tertentu, kemungkinan masyarakat untuk bertahan akan berkurang. Setiap adat yang meningkatkan ketahanan suatu masyarakat dalam lingkungan tertentu biasanya merupakan adat yang dapat disesuaikan, tetapi ini bukan berarti setiap ada mode yang baru atau sistim yang baru langsung diadopsi dan adat menyesuaikan diri dengan pembaruan itu. Karena dalam adat-istiadat itu ada konsep yang dikenal dengan sistim nilai budaya yang merupakan konsep-konsep mengenai apa yang hidup dalam alam pikiran sebagian besar dari warga suatu kebudayaan tentang apa yang mereka anggap bernilai, berharga, dan penting dalam hidup, sehingga ia memberi pedoman, arah serta orientasi kepada kehidupan warga masyarakat pendukung kebudayaan tersebut.

C.4. Kebudayaan Bersifat Dinamis dan Adaptif

Pada umumnya kebudayaan itu dikatakan bersifat adaptif, karena kebudayaan melengkapi manusia dengan cara-cara penyesuaian diri pada kebutuhan-kebutuhan fisiologis dari badan mereka, dan penyesuaian pada lingkungan yang bersifat fisik-geografis maupun pada lingkungan sosialnya. Banyak cara yang wajar dalam hubungan tertentu pada suatu kelompok masyarakat memberi kesan janggal pada kelompok masyarakat yang lain, tetapi jika dipandang dari hubungan masyarakat tersebut dengan lingkungannya, baru hubungan tersebut bisa dipahami. Misalnya, orang akan heran kenapa ada pantangan-pantangan pergaulan seks pada masyarakat tertentu pada kaum ibu sesudah melahirkan anaknya sampai anak tersebut mencapai usia tertentu. Bagi orang di luar kebudayaan tersebut, pantangan tersebut susah dimengerti, tetapi bagi masrakat pendukung kebudayaan yang melakukan pantangan-pantangan seperti itu, hal tersebut mungkin suatu cara menyesuaikan diri pada lingkungan fisik dimana mereka berada. Mungkin daerah dimana mereka tinggal tidak terlalu mudah memenuhi kebutuhan makan mereka, sehingga sebagai strategi memberikan gizi yang cukup bagi anak bayi dibuatlah pantangan-pantangan tersebut. Hal ini nampaknya merupakan hal yang sepele tetapi sebenarnya merupakan suatu pencapaian luar biasa dari kelompok masyarakat tersebut untuk memahami lingkungannya dan berinteraksi dengan cara melakukan pantangan-pantangan tersebut. Pemahaman akan lingkungan seperti ini dan penyesuaian yang dilakukan oleh kebudayaan tersebut membutuhkan suatu pengamatan yang seksama dan dilakukan oleh beberapa generasi untuk sampai pada suatu kebijakan yaitu melakukan pantangan tadi. Begitu juga dengan penyesuaian kepada lingkungan sosial suatu masyarakat; bagi orang awam mungkin akan merasa adalah suatu hal yang tidak perlu untuk membangun kampung jauh diatas bukit atau kampung di atas air dan sebagainya, karena akan banyak sekali kesulitan-kesulitan praktis dalam memilih tempat-tempat seperti itu. Tetapi bila kita melihat mungkin pada hubungan-hubungan sosial yang terjadi di daerah itu, akan didapat sejumlah alasan mengapa pilihan tersebut harus dilakukan. Mungkin mereka mendapat tekanan-tekanan sosial dari kelompok-kelompok masyarakat disekitarnya dalam bentuk yang ekstrim sehingga mereka harus mempertahankan diri dan salah satu cara terbaik dalam pilihan mereka adalah membangun kampung di puncak bukit.

Kebiasaan-kebiasaan yang ada dalam masyarakat tertentu merupakan cara penyesuaian masyarakat itu terhadap lingkungannya, akan tetapi cara penyesuaian tidak akan selalu sama. Kelompok masyarakat yang berlainan mungkin saja akan memilih cara-cara yang berbeda terhadap keadaan yang sama. Alasan mengapa masyarakat tersebut mengembangkan suatu jawaban terhadap suatu masalah dan bukan jawaban yang lain yang dapat dipilih tentu mempunyai sejumlah alasan dan argumen. Alasan–alasan ini sangat banyak dan bervariasi dan ini memerlukan suatu penelitian untuk menjelaskannya.

Tetapi harus diingat juga bahwa masyarakat itu tidak harus selalu menyesuaikan diri pada suatu keadaan yang khusus. Sebab walaupun pada umumnya orang akan mengubah tingkah-laku mereka sebagai jawaban atau penyesuaian atas suatu keadaan yang baru sejalan dengan perkiraan hal itu akan berguna bagi mereka, hal itu tidak selalu terjadi. Malahan ada masyarakat yang dengan mengembangkan nilai budaya tertentu untuk menyesuaikan diri mereka malah mengurangi ketahanan masyarakatnya sendiri. Banyak kebudayaan yang punah karena hal-hal seperti ini. Mereka memakai kebiasaan-kebiasaan baru sebagai bentuk penyesuaian terhadap keadaan-keadaan baru yang masuk kedalam atau dihadapi kebudayaannya tetapi mereka tidak sadar bahwa kebiasaan-kebiasaan yang baru yang dibuat sebagai penyesuaian terhadap unsur-unsur baru yang masuk dari luar kebudayaannya malah merugikan mereka sendiri. Disinilah pentingnya filter atau penyaring budaya dalam suatu kelompok masyarakat. Karena sekian banyak aturan, norma atau adat istiadat yang ada dan berlaku pada suatu kebudayaan bukanlah suatu hal yang baru saja dibuat atau dibuat dalam satu dua hari saja. Kebudayaan dengan sejumlah normanya itu merupakan suatu akumulasi dari hasil pengamatan, hasil belajar dari pendukung kebudayaan tersebut terhadap lingkungannya selama beratus-ratus tahun dan dijalankan hingga sekarang karena terbukti telah dapat mempertahankan kehidupan masyarakat tersebut.

Siapa saja dalam masyakarat yang melakukan filterasi atau penyaringan ini tergantung dari masyarakat itu sendiri. Kesadaran akan melakukan penyaringan ini juga tidak selalu sama pada setiap masyarakat dan hasilnya juga berbeda pada setiap masyarakat. Akan terjadi pro-kontra antara berbagai elemen dalam masyarakat, perbedaan persepsi antara generasi tua dan muda, terpelajar dan yang kolot dan banyak lagi lainnya.

D. PENUTUP

Benar bahwa unsur-unsur dari suatu kebudayaan tidak dapat dimasukan kedalam kebudayaan lain tanpa mengakibatkan sejumlah perubahan pada kebudayaan itu. Tetapi harus dingat bahwa kebudayaan itu tidak bersifat statis, ia selalu berubah. Tanpa adanya “gangguan” dari kebudayaan lain atau asing pun dia akan berubah dengan berlalunya waktu. Bila tidak dari luar, akan ada individu-individu dalam kebudayaan itu sendiri yang akan memperkenalkan variasi-variasi baru dalam tingkah-laku yang akhirnya akan menjadi milik bersama dan dikemudian hari akan menjadi bagian dari kebudayaannya. Dapat juga terjadi karena beberapa aspek dalam lingkungan kebudayaan tersebut mengalami perubahan dan pada akhirnya akan membuat kebudayaan tersebut secara lambat laun menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi tersebut.




REFERENSI

Benedict, Ruth, Patterns of Culture. Boston: Houghton Mifflin Co., 1980.

Harris, Marvin, “Culture, People, Nature; An Introduction to General Anthropology”, New York, Harper and Row Publishers, 1988.

Richardson, Miles, “Anthropologist-the Myth Teller,” American Ethnologist, 2, no.3 (August 1975).

Sumber : http://www.findtoyou.com/document/download-makna+difinisi+ilmu+ekonomi+doc-463885.html

Menuntut Ilmu

Tue, Apr 12th 2011, 08:13
Menuntut Ilmu
Jarjani Usman - Tafakur

“Barangsiapa yang mempelajari satu ilmu yang sepatutnya dilakukan untuk mencari ridha Allah, namun ia tidak mempelajarinya kecuali untuk mencari keuntungan duniawi, maka dia tidak akan mencium bau surga pada Hari Kiamat (HR. Ibnu Hibban).”

Sebagai hamba Allah, kita dituntut untuk berhati karena perbuatan mulia bisa berubah menjadi celaka, terutama karena niat yang tidak lurus karena Allah. Tidak terkecuali terhadap perbuatan menuntut ilmu. Bila perbuatan ini bukan karena Allah, maka biasanya akan begitu mudah terseret pada hal-hal yang tidak baik.

Di antaranya, banyak orang berilmu dan bergelar tinggi tetapi tidak mampu menjaga dirinya dari hawa nafsunya. Keinginan untuk menampak-nampakkan gelarnya mengalahkan keinginannya untuk mengamalkan kebaikan ilmunya untuk kebaikan dan perbaikan. Akibatnya, tak sedikit orang yang bergelar tinggi tapi lama-lama berubah menjadi kosong ilmunya. Sebab, sebagaimana sudah diingatkan bahwa ilmu yang tak diamalkan akan hilang perlahan.

Lebih parah lagi, bila yang berilmu berani membenarkan yang salah dan menyalahkan yang benar, asalkan mau dibayar untuk berbuat demikian. Orang yang seperti ini bukan hanya mengalami kehilangan ilmu baiknya, tetapi juga akan merasakan kenikmatan dalam kejahatannya. Lazimnya, Akibatnya, akan susah keluar dari lingkaran kejahatan dan senantiasa merasa terbantu ketika melakukan kejahatan.

Sumber : Serambinews.com

Senin, 11 April 2011

PERKEMBANGAN PENYULUHAN PERTANIAN DAN PERANANNYA DALAM PEMBANGUNAN PERTANIAN



Oleh : Ir. Zakaria Ibrahim, MM



- Perkembangan dam Riwayat Singkat Penyuluhan Pertanian ini penulis sajikan sebagai kilas balik dalam menggambarkan perkembangan penyuluhan pertanian di tanah air, sekaligus sebagai upaya menyahuti semangat desentralisasi penyuluhan pertanian di Daerah dalam rangka menghadapi era globalisasi pembangunan khususnya dibidang pertanian.

- Semoga tulisan ini dapat memberi manfaat kepada semua pihak terutama bagi rekan-rekan penyuluh Pertanian yang berada di lapangan.
- Penyuluhan Pertanian adalah merupakan pendidikan non formal yang ditujukan kepada petani dan keluarganya dalam upaya merubah perilaku guna mencapai kehidupan yang sejahtera.

- Telah banyak sumbangan penyuluhan pertanian terhadap tercapainya tujuan dan sasaran pembangunan pertanian.

- Sejak kelahirannya secara formal pada tahun 1910 (Dengan didirikannya

- Dinas Penyuluhan Pertanian / Lanbouw Voorlichtings Dient). Pada kurun waktu yang cukup panjang tersebut dapat diraih berbagai kisah dan pengalaman yang berharga dalam perjalanan penyuluhan pertanian, baik bagi pengembangan ilmu maupun bagi dunia gunalaksana yang membawa masyarakat tani agar hidup lebih sejahtera.

- Pada tulisan ini tidak akan mengungkapkan sejarah perkembangan penyuluhan secara terperinci, melainkan merupakan “Review” (Kronologis) singkat dari perkembangan kegiatan penyuluhan pertanian di tanah air.
- Saat awal kegiatan penyuluhan pertanian dimulai dengan pola pendidikan / penyuluhan dengan methode “Tetesan minyak” (Oli Plag) yakni dalam kurun waktu tahun 1950 – 1960. Pada priode ini pengertian pembangunan Pertanian sebagaimana dikenal sekarang belum ada, penyuluhan pertanian masih merupakan satu-satunya usaha untuk meningkatkan Produksi.

- Pada periode tersebut semua petugas Dinas Pertanian Rakyat adalah penyuluh. Kegiatan penyuluhan yang dilaksanakan berupa anjang sana, obrolan sore, berbagai kegiatan kursus dan rapat-rapat di balai Desa. Proses adopsi terhadap teknologi yang disuluhkan terasa lambat dan produksi nyaris tidak meningkat.

- Kelambatan adopsi tidak semata-mata karena methoda tetesan minyak yang dilaksanakan saat itu. Namun juga akibat tekhnologi yang ada saat itu masih belum terlalu unggul dibandingkan dengan cara tradisional yang dilaksanakan petani.

- Pola Komando (terjadi dalam kurun waktu 1960 – 1970) pada priode ini hasrat mencapai swasembada beras mulai santer diteriakkan dan diusahakan yang harus dicapai dengan suasana Komando, dan methode tetesan minyak sudah mulai dikesampingkan.

- Dalam kurun waktu ini penyuluhan pertanian mengalami kemunduran, dengan sistem komando Penerapan tekhnologi seperti penggunaan pupuk mulai dicekokkan kepada petani.

- Cara komando ini merisaukan pakar-pakar penyuluhan pertanian terutama dari kalangan Cendikiawan di Perguruan Tinggi, yang memperingatkan bahwa dengan cara paksaan akhirnya tidak akan membawa manfaat dalam kegiatan penyuluhan.

- Pada kurun waktu tersebut tepatnya dalam tahun 1963, Perguruan Tinggi IPB. Melakukan Pilot Proyek Demonstrasi Panca Usaha lengkap yang dilaksanakan dibeberapa desa di Kabupaten Kerawang dan menunjukkan bahwa methode Penyuluhan Pertanian yang murni pendidikan itulah akhirnya bisa menyakinkan petani terhadap manfaat dan keunggulan teknologi baru.

- Dengan “Demonstration Method” Petani dapat diyakinkan untuk menggunakan Teknologi baru.

- Pilot proyek inilah yang akhirnya berkembang menjadi BIMAS yang kita kenal sekarang.

- Pola pendidikan dalam mesin Pembangunan (Terjadi dalam kurun waktu 1970). Tahun 1970 dikenal sebagai tahun lahirnya Bimas Nasional yang disempurnakan (BND). Tahun ini juga dianggap sebagai permulaan bagi negara kita memasuki "Era Pembangunan Berencana"”

- Bimas Nasional yang disempurnakan (BND) merupakan rekayasa pembangunan ciptaan bangsa Indonesia sendiri.
- Pola pendidikan dalam pembangunan pertanian diawali pada Tahun ini, yang bersamaan dengan lahirnya program Bimas.

- Mesin pembangunan Pertanian BND mengandung misi tercapainya Swasembada pangan, memiliki pola dan tata kerja keorganisasian yang lengkap dan terorganisasi dengan pembiayaan yang cukup.

- Dengan lahirnya program Bimas (1970) maka penyuluhan pertanian ditegakkan dan dilahirkan kembali dengan sistim kegiatan penyuluhan menganut program BIMAS yakni Penyuluhan massal dan Penyuluhan Domisili.

- Bimas yang merupakan program dan perangkat terpadu dalam mengkoordinasikan pelayanan, pengetahuan, teknologi, sarana dan perkreditan saat itu operasionalnya berada pada Dinas Pertanian Tanaman Pangan.

- Pada tahun 1976/1977 timbul kesadaran oleh para pemikir dan pelaksana penyuluhan bahwa azas pendidikan merupakan azas penyuluhan.

- Dan pada tahun 1976/1977 tersebut pemerintah Indonesia membentuk proyek penyuluhan Pertanian Tanaman Pangan (NFCEP) yang dalam penyelenggaraannya mendapat bantuan Dana Bank Dunia.

- Dalam penyelenggaraan penyuluhan tersebut diterapkan sistim kerja latihan dan kunjungan (La-Ku) dan pada saat itu pula disebut sebagai era kebangkitan penyuluhan Pertanian.

- Tahap pertama dan kedua operasional proyek penyuluhan NFCEF dengan sistem kerja La–Ku ini diterapkan di Propinsi yang merupakan sentra produksi utama komoditi tanaman pangan (terutama beras) yakni di Propinsi Jawa Barat, Jawa Tengah, D.I Jokyakarta, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, Kalimantan Selatan, Bali, NTB, Daerah Istimewa Aceh, Kalimantan Barat dan Lampung.

- Melihat keadaan yang terus berkembang pada tahun 1980, Proyek Penyuluhan Tanaman Pangan (NFCEP) dikembangkan menjadi Proyek Penyuluhan Pertanian (NAEP) dimana operasional penyuluhan mencakup semua sub sektor lingkup pertanian dan kegiatan proyek dilaksanakan di seluruh propinsi.

- Sistim kerja Latihan dan Kunjungan (La – Ku) diterapkan dan diberlakukan disemua sub sektor yakni tanaman pangan, perkebunan, perikanan dan peternakan.

- Puncak keberhasilan penyelenggaraan penyuluhan berada pada priode ini dimana kegiatan penyuluhan telah mampu mendensiminasikan teknologi pertanian yang ditandainya dengan keberhasilan pemerintah berswasembada beras pada tahun 1984.

- Pada periode ini penyelenggaraan penyuluhan berjalan dengan pesat sesuai dengan institusi yang telah ditetapkan, yakni dengan menggunakan sistem kerja La-Ku-Si (Latihan – Kunjungan dan Supervisi.

- BPP (Balai Penyuluhan Pertanian) sebagai unit Kerja Penyuluhan Pertanian di Tingkat Kecamatan, benar-benar difungsikan keberadaannya dan merupakan Home Basenya penyuluhan pertanian di tingkat lapangan.

- Pada tahun 1986 institusi penguluhan pertanian mengalami kemajuan kembali dengan diawalinya Deptan melaksanakan otonomi dibidang penyuluhan pertanian yakni dengan diterbitkannya SK Bersama Mendagri dan Mentan tentang pedoman penye-lenggaraan penyuluhan pertanian yang antara lain berisi sebagai berikut :

1. BPP adalah unit organik di lingkungan Pemerintah Daerah Tingkat II yang dipimpin oleh seorang Kepala yang berada dan bertanggung jawab kepada Bupati KDH Tingkat II.

2. Penyuluhan pertanian ditempatkan diberbagai tempat baik ditingkat pusat, propinsi, Kabupaten Daerah Tingkat II, WKBPP dan WKPP.

3. Penyuluhan pertanian di Kabupaten Daerah Tingkat II ditempatkan pada Dinas-Dinas lingkup pertanian, Sekretaris Pelaksana Bimas, WKBPP dan WKPP dengan Satminkal pada Dinas Sub Sektor.

4. Terhitung sejak ditetapkan SK bersama tersebut semua aset yang ada di BPP dimiliki oleh Pemerintah Daerah Tingkat II.
- Pada periode ini penyelenggaraan penyuluhan pertanian lebih ditata sesuai dengan institusi yang berlaku saat itu, bidang tugas penyuluh pertanian lebih diarahkan sesuai dengan disiplin ilmu masing-masing sub sektor.
- Dan seiring dengan perjalanan kegiatan penyuluhan kemudian pada tahun 1996 kembali dikeluarkan Surat Keputusan bersama Mendagri dan Mentan
tentang pedoman penyelenggaraan penyuluhan pertanian, antara lain berisi bahwa :
• Kedudukan, Tugas dan Fungsi BIPP (pasal 7).
1. Pada setiap Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II dibentuk 1 (satu) BIPP, yang mempunyai wilayah kerja satu wilayah administrasi Kabupaten/Kotamadya Daerah Tingkat II, dipilih salah satu BPP yang telah ada, dan pembentukannya ditetapkan oleh Bupati/Walikota madya Kepala Daerah Tingkat II.
2. BIPP merupakan unit kerja organik penyuluhan pertanian yang kedudukannya berada dibawah dan bertanggung jawab kepada Bupati/Walikota madya Kepala Daerah Tingkat II.
3. Dan seterusnya

• Ketentuan Umum (Pasal 1).

1. Penyuluhan Pertanian adalah sistem pendidikan luar sekolah dibidang pertanian untuk petani-nelayan dan keluarganya serta anggota masyarakat pertanian agar dinamika dan kemampuannya dalam memperbaiki kehidupan dan penghidupannya dengan kekuatan sendiri dapat berkembang sehingga dapat meningkatkan peranan dan peran sertanya dalam pembangunan pertanian.

2. Informasi Pertanian adalah suatu data / bahan yang diperlukan penyuluh pertanian, petani – nelayan dan masyarakat pertanian.

3. Penyuluh Pertanian adalah Pegawai Negeri Sipil yang diberi tugas melakukan kegiatan penyuluhan pertanian secara penuh oleh pejabat yang berwenang pada satuan organisasi lingkup pertanian.

4. Dan seterusnya.
- Pada periode ini penyuluhan pertanian mengalami perubahan institusi yang cukup besar, dimana unit kerja organik penyuluh pertanian yang semula berada pada Dinas Lingkup Pertanian, sesuai dengan disiplin ilmunya, maka sejak diterbitkannya Surat keputusan Bersama tersebut Unit Kerja Penyuluh Pertanian berada pada Balai Informasi dan Penyuluhan Pertanian (BIPP).

- Dari kronologis penyelenggaraan penyuluhan pertanian tersebut maka jelas bahwa penyuluhan pertanian memiliki sejarah panjang dalam perjalanannya dan silih berganti tempat satuan administrasi pangkalnya
- Walau dengan perubahan-perubahan yang silih berganti tempat satuan administrasi pangkalnya, keberadaan penyuluh pertanian sebagai agen pembaharuan pembangunan pertanian di pedesaan tetap eksis dalam membina dan menyuluh petani di wilayah kerjanya.

- Penyuluh pertanian adalah seorang manager yang mampu merencanakan, merancang, merekayasa dan mengorganisir pekerjaannya melalui programa penyuluhan yang disusun bersama petani secara botton up.

- Kegiatan penyuluhan pertanian merupakan proses perubahan perilaku dalam mengadapsi inovasi baru, dengan demikian penyuluh pertanian bekerja untuk membangun harmoni masyarakat ke arah yang lebih maju dan dinamis.

- Dengan adanya perubahan perkembangan dan pembangunan pertanian yang semakin kompetitif dan komplek dalam menghadapi era agribisnis yang semakin menglobal maka sudah saatnya kualitas, kemampuan dan profesionalisme kerja penyuluh lebih ditingkatkan.

- Bergesernya orientasi kegiatan pertanian ke arah agribisnis, menuntut keserasian, keterpaduan dan kedekatan antara program dengan operasionalisasinya.

- Suatu tanggung jawab yang besar untuk membawa perubahan yang progresif, memerlukan profesionalisme kerja penyuluhan pertanian sesuai dengan bidang tugas dan disiplin ilmunya, seperti bidang Pertanian Tanaman Pangan, perkebunan, peternakan dan bidang perikanan.

- Sejak kebangkitannya (tahun 1970) penyuluhan pertanian telah mampu memotivasi terbentuknya lembaga kelompok tani yang cukup signifikan jumlahnya dan tersebar dipelosok pedesaan. Apabila jumlah lembaga kelompok tani yang ada tersebut mampu diberdayakan keberadaannya, maka akan mampu membawa perubahan yang cukup besar dibidang perekonomian di desa, yang pada gilirannya akan mengangkat harkat dan martabat masyarakat tani beserta keluarganya.

- Melihat perjalanan dan keberhasilan yang pernah dicapai dalam penyelenggaraan penyuluhan pertanian, maka sudah saatnya paradigma penyuluhan pertanian di Daerah diposisikan sesuai dengan dinamika pembangunan pertanian saat ini dan diperlukan suatu ketentuan dan penataan yang jelas dalam penyelenggaraannya.

- Demikian riwayat singkat ini kami paparkan semoga dapat menjadi bahan penataan kegiatan penyuluhan pertanian dalam rangka pelaksanaan desentralisasi penyuluhan pertanian di Daerah.

UJIAN ANATOMI HEWAN

UJIAN SEMESTER GENAP



Mata Kuliah : Anatomi Hewan
Hari / Tanggal : Selasa, 12 Juli 2005
Semester/Kelas : IV / Pagi
Jam : 14.15 s.d. 15.45
Dosen Pengasuh : Ir. Zakaria Ibrahim, MM


Soal :

1. Kumpulkan Foto Copy Kartu Pustaka yang anda miliki, baik kartu Pustaka Wilayah UNSAM, Pustaka FKIP, dan atau Pustaka lainnya yang ada anda miliki dan lampirkan bersama kertas jawaban Ujian ini.
2. Coba anda sebutkan :
a. Apa perbedaan antara Adaptasi dengan toleransi
b. Dan Apa yang disebut dengan Analog dan Homolog
c. Ekomorfologi. Apakah itu ? Berikan contohnya,
3. Suatu alat bersifat homolog terhadap lain alat, haruslah memenuhi kriteria sebagai berikut dan coba anda sebutkan !
4. Makhluk Hidup terutama Hewan mempunyai Tingkatan Organisasi Dalam Kehidupannya, untuk itu coba anda gambarkan dan beri penjelasan sedikit guna dapat mencakup makna yang dimaksud.
5. Anda sebutkan macam-macam hewan yang ada di dunia ini dari tingkat yang paling rendah hingga ke tingkat yang tinggi serta dengan contoh namanya.

BUDI DAYA KACANG TANAH



Botani Tanaman Kacang Tanah

Tanaman kacang tanah termasuk famili leguminosa (kacang-kacangan). Menurut Tjitrosoepomo (1986), klasifikasi lengkap tanaman kacang tanah adalah :
Divisio : Spermatopyhta
Sub Divisio : Angiospermae
Class : Dikotiledoneae
Ordo : Polipetales
Famili : Leguminoceae
Genus : Arachis
Speccies : Arachis hypogeae

Kacang tanah mempunyai akar tunggang, namun akar primernya tidak tumbuh secara dominan. Perakaran tersebut, terdiri dari akar skunder yang tumbuh dari akar tunggang, dan jumlah akar cabang terbentuk dari akar skunder. Pada akar tumbuh bintil-bintil akar atau nodul, berisi bakteri Rhizobium japanium. Bakteri ini dapat mengikat nitrogen dari udara yang dapat digunakan untuk pertumbuhan kacang tanah.

Khusus pada varietas-varietas kacang tanah tipe menjalar, pada masing-masing cabang yang buku-bukunya menyentuh tanah, akan tumbuh juga akar liar (adventitious root) dengan demikian daerah penyerapan unsur hara akan lebih luas lagi karena akar-akar liar inipun berfungsi sebagai penghisap (Anonymous, 1989).

Kacang tanah termasuk tumbuhan semusim, berbatang jenis perdu, tidak berkayu. Tipe pertumbuhan batang ada yang tegak, ada yang menjalar. Dari tipe tegak ada yang dapat mencapai tinggi batang 80 cm, tetapi rata-rata tinggi tanaman subur 50 cm. Tipe menjalar dapat tumbuh kesegala arah membentuk lingkaran, dengan garis tengah dapat mencapai 150 cm. Dari batang utama timbul cabang primer yang masing-masing dapat membentuk cabang-cabang skunder. Tipe tegak umumnya bercabang 3 - 6 cabang primer, sedang tipe menjalar dapat membentuk 10 cabang primer yang diikuti oleh cabang skunder, tersier dan ranting (Anonymous, 1990).

Menurut Sumarno (1986), daun tanaman kacang tanah mempunyai daun majemuk bersisip genap. Setiap helai daun terdiri dari empat helai anak daun. Permukaan daunnya sedikit berbulu, berfungsi penahan atau penyimpan debu atau obat semprot.

Bunga berbentuk kupu-kupu, berwarna kuning atau kuning kemerahan. Penyerbukan bunganya merupakan penyerbukan sendiri, artinya bunga jantang menyerbuki bunga betina dari satu bunga yang sama. Penyerbukan terjadi pada saat bunga masih kuncup, sehingga disebut penyerbukan klesisitogami (penyerbukan tertutup). Saat terjadi penyerbukan adalah malam menjelang pagi hari. Bunga yang telah diserbuki tumbuh kearah bawah membentuk bakal buah atau ginofora (Anonymous, 1991).
Bunga berbentuk polong terdapat didalam tanah, berisi 1-4 biji. Umumnya 2-3 biji perpolong. Bentuk polong ada yang berujung tumpul ada yang runcing. Bagian polong antara dua biji dapat terbentuk pinggang atau tanpa pinggang. Polong ditandai oleh lapisan warna hitam pada kulit polong bagian dalam. Rendemen polong kering menjadi biji berkisar 50-70 % (Anonymous, tt).
Jumlah polong per pohon bermacam-macam. Tipe spanis dapat membentuk sampai 50 polong. Tipe virginia dapat membentuk sampai 250 polong per pohon. Rata-rata polong perpohon varietas unggul di negeri kita, pada pertanaman normal adalah 15 polong perpohon (Sumarno, 1986).
Bentuk ukuran biji kacang tanah sangat berbeda-beda ada yang besar ada yang kecil. Begitu juga warna bijinya bermacam-macam; putih, merah kesuma dan ungu. Perbedaan-perbedaan itu tergantung pada varietas-varietasnya (Anonymous, tt).

Syarat Tumbuh Tanaman Kacang Tanah

Persyaratan mengenai tanah yang cocok bagi tumbuhan tanaman kacanh tanah tidaklah istimewa. Syarat yang paling penting adalah bahwa keadaan tanah tidak terlalu kurus dan padat. Kondisi tanah yang mutlak diperlukan bagi tanaman kacang tanah adalah tanah yang gembur. Tanah gembur ini tidak hanya baik bagi tumbuh tanaman kacang tanah tetapi juga menguntungkan pada saat panen.
Tanah yang mengandung bahan organik dalam persentase yang terlalu banyak justru tidak dikehendaki, karena dapat menurunkan kualitas produksi (Sumarno, 1986).
Kacang tanah memerlukan iklim yang lebih panas dibandingkan tanaman kedelai dan jagung. Suhu harian antara 25 – 35 oC sangat baik untuk pertumbuhan tanaman kacang tanah. Pada daerah dengan suhu kurang dari 25 oC tanaman. Kacang tanah tumbuh lambat, umur lebih lama dan hasilnya kurang. Curah hujan yang diperlukan untuk pertumbuhan hingga panen minimal sebanyak 300 mm, terutama sangat penting bagi awal pertumbuhan, pembentukan bakal buah (ginofora) dan pengisian polong (Anonymous, 1989).

Apabila sumber pengairan tersedia, iklim yang kering dengan sinar matahari yang cukup, merupakan lingkungan yang terbaik untuk pertumbuhan kacang tanah. Namun bila sumber pengairan berasal dari air hujan, hujan seminggu sekali diselingi dengan hari yang cerah, sangat baik pertumbuhan tanaman kacang tanah (Anonymous, 1991).

PERANAN DINAS PETERNAKAN KABUPATEN ACEH TIMUR DALAM UPAYA PEMBINAAN MORALITAS PEGAWAI NEGERI


Oleh : Ir. Zakaria Ibrahim, MM
Karya Tulis Dlm Rangka Ikut Testing Spamen Tahun 2001
BAB I

PENDAHULUAN


A. Latar Belakang Masalah

Tujuan pembangunan nasional adalah mewujudkan manusia dan masyarakat Indonesia yang lebih maju, bermoral dan lebih sejahtera dengan keadilan dan kemakmuran yang merata baik material maupun spiritual. Dengan demikian maka hakekat pembangunan nasional adalah pembangunan masyarakat Indonesia seutuhnya.
Usaha untuk meningkatkan pemberdayaan aparatur negara terwujudnya pemerintah yang bersih dan berwibawa, guna mencapai cita-cita bangsa Indonesia menuju masyarakat adil dan makmur, perlu ditempuh beberapa terobosn, salah satu diantaranya ialah usaha peningkatan pembinaan moralitas pegawai nergeri sipil sebagai salah satu unsur aparatur yang menjalankan roda pemerintahan.
Meningkatnya kwalitas moral pegawai nergeri sipil akan diusahakan secara berangsur-angsur sesuai dengan kemampuan daerah. Hingga akhirnya pegawai dapat berfikir dan memusatkan perhatiannya untuk melaksanakan tugas sehari-hari. Usaha peningkatan kwalitas dimaksud adalah pegawai yang memiliki kecakapan dan keterampilan yang dibekali dengan pendidikan dan latihan, sehingga pegawai mampu melaksanakan tugasnya yaitu sebagai abdi negara dan abdi masyarakat yang bermoral.
Seorang pemimpin sudah harus merencanakan peningkatan kwalitas pegawai dengan cara pembinaan dan usaha penyediaan dana sesuai dengan keperluan Diklat baik yang fungsional maupun struktural.

B. Lingkup Kajian

Agar pembahasan lebih terarah dan sistematis, maka dalam penyusunan Karya Tulis ini penulis terlebih dahulu membatasi lingkup kajian yang tercakup dalam beberapa aspek yang berkaitan dengan terwujudnya Upaya Pembinaan Moralitas Pegawai Negeri dalam lingkungan Dinas Peternakan Kabupaten Aceh Timur.
Dalam hubungan tersebut peran petugas / pegawai negeri pada Dinas Peternakan Kabupaten Aceh Timur sebagai pioneer dalam pembangunan peternakan harus mampu menggerakkan dan mendinamisasikan masyarakat petani melalui lembaga kelompok petani yang tersebar di 31 kecamatan dalam Kabupaten Aceh Timur.

C. Tujuan Penulisan

Adapun tujuan penulisan karya tulis ini adalah merupakan salah satu persyaratant untuk dapat mengikuti Seleksi Penyaringan Diklat Struktural SPAMEN di Lingkungan Daerah Tingkat I Tahun 2001.





BAB II
GAMBARAN KEADAAN

A. Keadaan Sekarang

Sejalan dengan usaha-usaha Dinas Peternakan Kabupaten Aceh Timur untuk meningkatkan produktivitas usahatani bidang peternakan, maka upaya peningkatan kemampuan dan profesionalisme kerja pegawai negeri yang bermoral baik sebagai penggerak swadaya masyarakat petani adalah merupakan hal yang tepat.

Dalam perjalanan panjang penyuluhan peternakan di Kabupaten Aceh Timur, ternyata masih belum mampu mengimbangi lajunya pembangunan yang terus berkembang dengan cepat.
Dengan peningkatan pengetahuan dan keterampilan pegawai negeri sipil, melalui pembekalan dirinya dengan ilmu terapan diharapkan dapat meningkatkan kemampuan kerja pegawai negeri sipil (penyuluh) dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat tani di pedesaan.

B. Keadaan yang Diharapkan

1. Terciptanya kemampuan kerja pegawai negeri sipil yang bermoral tinggi.

Seseorang yang bermoral tinggi senang dengan jabatannya di dalam organisasi itu, ia akan mempunyai kepercayaan pada dirinya, pada rekan-rekan dan atasanya, ia akan menunjukkan sikap rela untuk bekerja sama dan ia bersemangat bekerja untuk mencapai tujuan bersama dari organisasi itu.
Dengan peningkatan pengetahuan dan keterampilan yang optimal maka diharapkan kemampuan, disiplin dan moralitas pegawai negeri yang ada di Dinas Peternakan Kabupaten Aceh Timur akan mampu berperan terhadap tugasnya yakni sebagai pembimbing masyarakat petani dalam rangka peningkatan sumber daya manusia di pedesaan.

2. Tercapainya peningkatan pengatahuan pegawai negeri sipil pada Dinas Peternakan Kabupaten Aceh Timur.

Dalam upaya memberdayakan masyarakat petani melalui proses alih teknologi, maka pegawai negeri sipil yang ada di Dinas Peternakan Kabupaten Aceh Timur diharapkan akan mampu menguasai ilmu dan teknik peternakan melalui dari cara memelihara ternak sampai dengan pasca panen.
Ilmu dan teknologi akan dapat diserap dan diperoleh melalui program dan kegiatan pendidikan dan latihan dan kursus-kursus penjenjangan fungsional yang dilaksanakan secara terencana dan terarah.


BAB III
PERMASALAHAN

A. Identifikasi Masalah

Kemampuan individu pegawai negeri di Dinas Peternakan Kabupaten Aceh Timur dalam menyerap dan menguasai teknologi peternakan masih belum seperti yang diharapkan, disamping kemampuan kerja dalam penguasaan ilmu sosial masyarakat yang ekonominya juga masih kurang, yang semestinya hal ini merupakan hal yang mutlak dimiliki oleh pegawai negeri.

B. Perumusan Masalah

Dari hal tersebut di atas, maka disini dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :

1. Kurangnya kemampuan kerja pegawai negeri sipil yang bermoral tinggi pada Dinas Peternakan Kabupaten Aceh Timur.

2. Kurangnya pengetahuan pegawai negeri pada Dinas Peternakan Kabupaten Aceh Timur.




BAB IV
ANALISIS DAN PEMECAHAN MASALAH

A. Analisis

Akibat dari kurangnya kemampuan kerja individu pegawai negeri sipil di Dinas Peternakan Kabupaten Aceh Timur disebabkan :

1. Rendahnya moralitas pegawai.

2. Kurangnya petugas.

Sedangkan akibat dari kurangnya pengetahuan pegawai negeri sipil pada Dinas Peternakan Kabupaten Aceh Timur disebabkan :

1. Kurangnya penguasaan aspek teknologi

2. Kurangnya pengetahuan sosial.

B. Pemecahan Masalah

1. Terciptanya Kemampuan Kerja Pegawai Negeri Sipil yang Bermoral Tinggi pada Dinas Peternakan Kabupaten Aceh Timur.
Tinggi rendahnya moral mencerminkan, bagaimana efektifnya pemimpin suatu perusahaan mempraktekkan “Good Human Realitions”. Maka dengan adanya kemampuan kerja pegawai negeri yang optimal diharapkan mutu penerapan teknologi peternakan juga akan meningkat.
Untuk menciptakan jaringan kelembagaan yang kondusif melalui kegiatan penyuluhan maka diharapkan adanya pengembangan kelembagaan kelompok tani di Kabupaten Aceh Timur.
Disamping itu diharapkan pula adanya tenaga atau personil yang memiliki latar belakang pendidikan yang memadai guna dapat berfikir secara maju, berinisiatif dan bermoral tinggi agar mampu memberdayakan masyarakat tani dalam upaya meningkatkan produktivitas usahataninya.

2. Terwujudnya Peningkatan Pengetahuan Pegawai Negeri pada Dinas Peternakan Kabupaten Aceh Timur.
Dengan meningkatnya pengetahuan pegawai negeri sipil tentang penguasaan aspek teknologi, kaka diharapkan akan mampu diserap oleh masyarakat tani dalam upaya meningkatkan produktivitas ternak dan dengan sendirinya akan meningkatkan pendapatan dan kelayakan hidup petani peternak di pedesaan.

Disamping itu dengan penguasaan ilmu sosial secara optimal diharapkan petugas khususnya pegawai negeri sipil pada Dinas Peternakan Kabupaten Aceh Timur akan mampu mendinamisasikan dan mengembangkan aktivitas kelompok tani secara berkualitas sesuai dengan tujuan dan sasaran kelompok tani dalam memberdayakan anggotanya.

BAB V
PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Profesionalisme dan kedisiplinan kerja pegawai negeri sipil pada Dinas Peternakan Kabupaten Aceh Timur, masih perlu untuk ditingkatkan dalam upaya menyonsong kegiatan pembangunan yang semakin pesat.

2. Upaya peningkatan kemampuan kerja pegawai negeri sipil pada Dinas Peteranakan Kabupaten Aceh Timur diantaranya adalah melalui pelatihan dan pendidikan, peningkatan pengawasan dan pembinaan yang diharapkan akan menambah pengetahuan, kemampuan dan semangat kerja serta bermoral tinggi bagi pegawai di lapangan.

3. Perlunya bimbingan kepada pegawai negeri (petugas) secara rutin dalam upaya pembinaan moralitas yang baik.

B. Saran - Saran

1. Diharapkan adanya kerja sama yang baik antara pegawai negeri sipil dengan petugas lapangan guna untuk dapat menerapkan kepada masyarakat tani di pedesaan.

2. Adanya dukungan atasan dalam memberdayakan pegawai negeri agar berhasil guna, berdaya guna dan bermoral tinggi.

DAFTAR KEPUSTAKAAN

Anonymous, 2000. Laporan Dinas Peternakan Kabupaten Aceh Timur. Disnak Aceh Timur, Langsa

-------, 1992. Kursus Prinsip-Prinsip Pengawas Dasar (KPPD). Pusdiklat, Pertamina, Jakarta.

Syamsyir H. Hutagalung, 1984. Management Perkantoran (Kapita Selekta). Akademi Sekretariat & Managenet, Yayasan pendidikan Harapan, Medan.

Mar’at, 1982. Pemimpin dan Kepemimpinan. Ghalia Indonesia, Jakarta.




























PERANAN DINAS PETERNAKAN KABUPATEN ACEH TIMUR DALAM UPAYA PEMBINAAN MORALITAS PEGAWAI NEGERI



KARYA TULIS

D
I
S
U
S
U
N

OLEH :

N a m a : Ir. Zakaria, MBA NIP Lama : 390 011 513
NIP Baru : 19630810 198903 1 014
Nomor Tes :
















SELEKSI PENYARINGAN DIKLAT STRUKTURAL
SPAMEN DI LINGKUNGAN PEMDA TINGKAT I
TAHUN 2001
KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjantkan kehadhirat Allah SWT, atas rahmat dan karuniaNya penulis telah dapat menyusun Karya Tulis yang sederhana ini, kemudian selawat dan salam kita sanjungkan keharibaan Nabi Besar Muhammad SAW yang telah membawa ummatnya dari alam kebodohan ke alam yang penuh dengan ilmu pengetahuan.
Adapun judul Karya Tulis ini adalah “Peranan Dinas Peternakan Kabupaten Aceh Timur dalam Upaya Pembinaan Moralitas Pegawai Negeri” yang merupakan salah satu syarat dalam mengikuti Seleksi Penyaringan Diklat Struktural SPAMEN di Lingkungan Pemerintah Daerah Tingkat I Tahun 2001
Disini penulis tak lupa mengucapkan terima kasih kepada :
1. Bapak Bupati Aceh Timur.
2. Bapak Sektaris Daerah Kabupaten Aceh Timur yang telah memberi kesempatan untuk mengikuti seleksi dimaksud.
3. Isteri dan anak-anak tercinta yang dengan semangat dan do’a mereka terdorong penulis untuk mengikuti Seleksi Penyaringan Diklat Struktural Spamen ini.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan Karya Tulis ini masih jauh dari kesempurnaan, untuk itu kritik dan saran yang bersifat membangun sangat diharapkan demi perbaikan di masa mendatang.

Amin Yarabbal ‘Alamin, semoga dapat bermanfaat hendaknya.
Peukan Baru, 29 September 2001
Penulis,


Ir. Zakaria, MM
NIP. 390 011 513